
Pernahkah terpikir oleh kita, mengapa Yesus memberikan Diri-Nya dicobai oleh Iblis? Bukankah Yesus adalah Allah? Mengapa Allah membiarkan Diri-Nya dicobai oleh Iblis? Bukankah sebagai Allah, Yesus tahu bahwa Dia pasti menang melawan godaan Iblis? Namun, semua hal ini dilakukan oleh Yesus bukan untuk Diri-Nya sendiri, namun dilakukannya untuk kepentingan manusia, makhluk yang dikasihi-Nya. Yesus membiarkan Diri-Nya dicobai untuk menunjukkan strategi Iblis dalam menggoda manusia dan pada saat yang bersamaan, Yesus menunjukkan jalan bagaimana untuk menghadapi godaan tersebut. Semua yang Yesus lakukan merupakan suatu pelajaran bagi kita manusia, sehingga kita dapat mengikuti apa yang dilakukan-Nya, sehingga kita dapat mencapai keselamatan kekal. Pencobaan Yesus yang dicatat dalam Injil ini merupakan kejadian yang sangat penting dalam kehidupan Yesus.
Kita diberitahukan bahwa Yesus, sebagai yang dipenuhi Roh Kudus, segera dipimpin oleh Roh ke padang gurun. Di sana Ia berpuasa selama 40 hari dan 40 malam serta dicobai oleh iblis. Selama masa ini, Yesus tidak makan apa-apa. Keadaan seperti ini membuatNya secara jasmaniah rawan pada godaan-godaan iblis. Yesus harus melalui waktu seperti ini sebab Ia harus mendapatkan atau mencapai kebenaran yang dibutuhkan umatNya agar bisa memasuki kerajaan sorga. Ini termasuk bagian dari ketaatan aktif Yesus. Sama seperti Adam harus diuji di Taman Eden untuk memperoleh kehidupan kekal melalui ketaatannya. Kristus sebagai Adam yang lebih Besar dan Hebat, harus menjalani cobaan seperti itu untuk menjamin keselamatan kita.
Dalam Injil Lukas, catatan pencobaan Yesus ditempatkan sesudah silsilah Yesus di mana Lukas mengusut kembali kepada Adam. Lukas melalui pengajaran Paulus dengan benar menggambarkan Kristus sebagai Adam yang kedua yang harus mengerjakan apa yang Adam pertama gagal lakukan, yaitu hidup yang kekal. Kristus, sebagai perwakilan sempurna manusia, memelihara Taurat Allah untuk kita melalui ketaatanNya yang aktif. Adam gagal menaati perintah Allah di Taman Eden dengan menyerahkan diri pada tiga godaan iblis yaitu (1) Keinginan daging (2) Keinginan mata dan (3) Keangkuhan hidup. Setelah dicobai iblis, Hawa mengambil bagian buah itu karena (1) "buah pohon itu baik" (keinginan daging), (2) "sedap kelihatannya" (keinginan mata), (3) "menarik hati karena memberi pengertian" (keangkuhan hidup). Dengan tidak menaati Allah, Adam dan Hawa bukan hanya menceburkan diri mereka saja, tetapi juga semua manusia jatuh pada penghukuman karena dosa.
Jika kita perhatikan pencobaan yang dialami Yesus, Yesus juga dicobai dengan cara yang sama seperti Adam dan Hawa alami: Yesus dicobai (1) untuk mengubah batu menjadi roti (keinginan daging), (2) dengan kerajaan dunia dan kemegahannya (keinginan mata), dan (3) menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah ke bawah (keangkuhan hidup). Kristus menang. Dia mengalahkan iblis dengan firman Allah dan mengutip firman Allah, (1) Ulangan 8:3 "Bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN," (2) Ulangan 6:13, "Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah" dan (3) Ulangan 6:16, "Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu."
Kristus mengalahkan iblis. Dia dengan sempurna mentaati perintah-perintah Allah. Dia menyelamatkan kita melalui ketaatan aktifNya. Pencobaan yang dialami Yesus bisa juga terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari. Setiap saat iblis berusaha mencobai kita dengan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Bagaimanakah sikap kita pada saat kita dicobai iblis ?
Apakah kita dapat mengalahkannya ? Atau sebaliknya kita kalah terhadap godaan iblis ? Jika kita setiap saat hidup seturut dengan Firman Tuhan kita pasti dapat mengalahkan godaan iblis tersebut. Sebaliknya jika kita tidak akrab dengan Firman Tuhan pasti kita akan kalah menghadapi godaan iblis tersebut. Oleh sebab itu marilah kita senantiasa dekat dengan Yesus dan FirmanNya sehingga kita dapat mengalahkan godaan iblis. Lebih-lebih, hari ini kita memasuki masa Pra Paskah. Masa untuk kita merenungkan secara khusus ketaatan Yesus pada misi yang Ia emban dari Bapa. Masa yang istimewa karena kita diajak untuk menghayati solidaritas kepada sesama. Tuhan Yesus Memberkati kita semua.Amin.
Bacaan I: Ulangan 26:1-11;
Tanggapan: Mazmur 91:1-2,9-16;
Bacaan II: Roma 10:8b-13;
Bacaan III: Injil Lukas 4:1-13
Warta Gereja Edisi: Minggu, 17 Februari 2013
Add comment