
Mahatma Gandhi pernah mengatakan bahwa kekayaan, makanan, minuman dan kebutuhan pokok yang lain yang tersedia di bumi ini cukup untuk seluruh penduduk bumi. Semestinya tidak ada seorang pun yang mengalami kekurangan makan, dan minum. Akan tetapi, kenyataannya, banyak orang mengalami kelaparan dan kehausan.
Hal ini disebabkan oleh kuatnya keserakahan dan lemahnya perhatian dan kepedulian terhadap kehidupan orang lain dan kehidupan bersama. Banyak orang bijak yang menyerukan supaya setiap orang memperhatikan kepentingan dan kebutuhan orang lain, supaya setiap orang turut mengembangkan kehidupan bersama yang adil, dan damai. Sikap dan perilaku ini merupakan modal besar untuk menghadapi kemiskinan dan ketimpangan.
Peristiwa janda miskin mempersembahkan uang sebanyak dua peser menjadi tema pengajaran Tuhan Yesus untuk mengajarkan sikap dan perilaku kepada para murid-Nya. Model persembahan Israel Kuno terbuka, artinya, jumlah uang yang dipersembahkan bisa diketahui oleh orang lain. Orang yang mengetahui besaran persembahan orang lain tidak dicap sebagai orang yang suka mengurus orang lain, atau orang yang ingin tahu urusan orang lain. Ini yang dapat dilihat dari bacaan Markus 12:41-44.
Tidak mengherankan apabila Tuhan Yesus mengetahui jumlah uang yang dipersembahkan oleh janda miskin waktu itu. Tuhan Yesus juga mengetahui jumlah uang yang dipersembahkan oleh orang-orang kaya yang datang ke rumah ibadah waktu itu, jumlahnya banyak. Murid-murid tidak menilai Tuhan Yesus sebagai guru yang suka ngintip jumlah persembahan umat yang beribadah. Yang menjadi perhatian utama Tuhan Yesus dalam peristiwa itu adalah janda miskin miskin yang mempersembahkan uang seduit, seluruh uang yang ada padanya.
Apakah pamrih janda miskin sehingga memberikan persembahan yang banyak?Ada yang menduga, pamrih janda itu adalah supaya Tuhan memberikan kepadanya uang dalam jumlah yang lebih banyak sehingga ia menjadi kaya, berkelimpahan. Saya tidak sependapat dengan dugaan semacam itu. Saya lebih melihat sisi keprihatinan dan kepedulian janda miskin itu. Kemiskinan, ketimpangan dan ketidakadilan merupakan masalah sosial yang dihadapi oleh bangsa Israel waktu itu. Ada banyak orang kaya, tetapi terdapat sangat banyak orang miskin; inilah ketimpangan hidup dalam masyarakat.
Salah satu tatanan yang digagas oleh Allah melalui hamba-hamba-Nya adalah pembangunan kompleks Bait Suci. Di dalam kompleks ini tersedia tempat untuk menampung anak-anak yatim, dan orang-orang terlantar. Persembahan yang dikumpulkan yang diperuntukkan untuk Tuhan dikelola sedemikian rupa, sehingga-orang yang dipelihara di kompleks Bait Suci terpelihara kehidupannya, tercukupi kebutuhan makan dan minumnya. Dengan demikian, janda miskin, yang mungkin juga menjadi korban kejahatan kaum elit (ayat 40), yang mempersembahkan seluruh uangnya menunjukkan ketaatannya kepada Allah. Dan, pada saat yang sama, ia menunjukkan perhatian dan kepedulian kepada orang-orang yang lain yang dipelihara di kompleks Bait Suci. Kehidupan bersama menjadi perhatian besar dan kepedulian janda miskin itu.
Di sini kita melihat perjumpaan pengajaran Kristus dengan pengajaran orang-orang bijak di seluruh bumi. Semua sepakat mengatakan bahwa setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan kehidupan bersama yang adil dan damai. Salah satu bentuk keadilan adalah memberikan hak makan dan minum kepada setiap orang sehingga tidak ada seorang pun yang kelaparan. Kepedulian dan perhatian kepada orang lain dan kehidupan bersama, menurut ajaran Kristen merupakan bentuk ketaatan dan kasih kita kepada Allah. Pada saat yang sama, kepedulian dan perhatian kepada orang lain dan kehidupan bersama menunjukkan karya Roh Kudus dalam kehidupan orang-orang Kristen.
Bacaan: Markus 12 : 41 – 44
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 8 November 2015
Add comment