
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Hari ini kita semua umat kristiani merayakan Paskah, hari kebangkitan Tuhan kita; Yesus Kristus. Syukur layak dan pantas kita haturkan bahwa tahun ini kita masih diperkenankan untuk merayakan Paskah, entah yang keberapa kali kita telah merayakannya. Mengapa kita mesti mensyukurinya?
Paskah menunjukkan bahwa Yesus berjaya dan menang atas kuasa kematian. Yesus yang beberapa hari sebelumnya berada pada titik klimaks penderitaan, kehinaan dan kelemahan yang berujung pada kematian, seolah menyatakan bahwa diri-Nya telah menjadi pencundang. Ia jauh dari bayangan Putra Allah, Mesias dan Tuhan yang dielu-elukan banyak orang.
Hal itulah yang membuat para murid menjauhi salib dan jenazah Yesus. Maka Kitab Suci lalu mencatat Yusuf dari Arimatea - ia adalah anggota Majelis Besar yang menjadi murid Tuhan secara sembunyi-sembunyi karena takut pada orang-orang Yahudi - bersama dengan Nikodemuslah yang merawat jenazah Yesus (Yoh. 19:38-42). Kedua orang yang bukan bilangan 12 murid itulah yang justru menurunkan jenazah Yesus, lalu mengapani dan membubuhi dengan rempah-rempah sebagaimana layaknya adat bangsa Yahudi. Ketakpedulian para murid terhadap jenazah Yesus ini menunjukkan betapa hancurnya hati mereka. Sebab keyakinan mereka terhadap Yesus yang dibangun dari pergaulan selama bersama-sama Yesus telah hilang. Tugas perutusan menjadi penjala manusia yang telah ditegaskan Yesus pada awal perjumpaan mereka sudah hendak mereka tinggalkan. Mereka tengah bersiap-siap kembali pada profesi mula-mula.
Oleh sebab itulah bukan juga para murid yang menjadi saksi pertama dari kebangkitan Yesus. Nas kita menjelaskan bahwa Maria Magdalena dan Maria (ibu Yakobus) lah yang menjadi saksi pertama kebangkitan Yesus. Kedua perempuan ini (menurut Matius) yang pertama kali berjumpa dengan Yesus setelah kebangkitan-Nya. Dan karena itu jugalah mereka lalu diutus untuk mewartakan hal kebangkitan-Nya pada para murid.
Dijelaskan dalam ayat 8, para perempuan itu meski takut, (bila para murid tidak percaya) namun dengan sukacita yang besar mereka berlari cepat-cepat untuk menyampaikan kabar gembira itu pada para murid. Sukacita yang mereka rasakan lebih besar daripada rasa takut akan penolakan. Sukacita itu menggantikan rasa duka yang mengiringi langkah mereka ke kubur hendak meminyaki jenazah Yesus. Sukacita atas kebangkitan Yesus telah memberi harapan baru dan semangat dalam hidup mereka.
Sungguh benar, jika kebangkitan Yesus telah menjadi daya hidup baru. Sebab Yesus yang bangkit dan jaya telah membuktikan diri-Nya yang mampu mengalahkan kuasa maut. Maka, maut tidaklah lagi menguasai orang-orang yang percaya pada-Nya. Akan hal ini Paulus menegaskan bahwa kebangkitan Yesus menjadi yang sulung dari orang-orang yang telah mati (I Kor. 15:12-23). Itu berarti bahwa kebangkitan Yesus juga mengalahkan hukum alam, sebab yang telah mati tidak akan mati selamanya namun akan mengalami kebangkitan jika percaya pada Kristus. demikian peristiwa kebangkitan Yesus yang terjadi hari pertama, seperti dikatakan dalam ayat 1 dari nas kita: “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria….” telah memperbarui kondisi hidup manusia.
Thomas Aquinas; seorang imam Domikan yang hidup pada abad 12 mengatakan; penderitaan Yesus di salib yang menjelmakan kemuliaan dalam kebangkitan-Nya tidak hanya membebaskan manusia dari dosa, tetapi juga membenarkan dan memulihkan kehormatan kita sebagai manusia. Manusia yang dulu dikalahkan oleh kematian dan maut, atas kebangkitan Yesus justru dapat mengalahkan kematian dan maut (seperti dikatakan oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:57). Inilah alasan utama kita layak dan sudah sepantasnya mengucap syukur karena Paskah.
Lalu bagaimana kita harus mengungkapkan syukur kita? Melalui doa dan menyanyikan pujian bagi Tuhan? Itu pasti. Namun tidak hanya berhenti pada doa dan nyanyian pujian. Kita perlu menghidupkan doa dan nyanyian kita dalam sikap bakti yang konkrit. Membangun ketaatan beribadah bersama jemaat Tuhan adalah salah satunya. Sebab, ibadah jemaat yang kita lakukan setiap hari Minggu sesungguhnya menjadi manifestasi dari syukur yang paling nyata atas Paskah, kebangkitan Yesus Kristus, Tuhan kita.
Paskah yang terjadi pada hari pertama itulah yang kemudian oleh jemaat mula-mula disebut sebagai hari Tuhan (Wahyu 1:10). Dan pada hari Tuhan inilah mereka biasa berkumpul dan bersekutu untuk berdoa dan membagi makanan (Kis. 20:7, 1 Kor. 16:2). Jadi oleh jemaat mula-mula hari kebangkitan Yesus mereka sebut sebagai hari Tuhan yang senantiasa mereka peringati dalam wujud persekutuan bersama. Hari Tuhan atau Dominggo (bahasa Portugis) oleh kita orang Indonesia disebut hari Minggu. Jadi, jika kita kini tekun dalam sikap bakti berjemaat di gereja setiap hari Minggu sesungguhnya itulah wujud yang paling konkrit dari rasa syukur kita atas Paskah Tuhan Yesus Kristus.
Lebih lanjut mengenai hari Tuhan, Athanasius; seorang Bapa Gereja dari Aleksandria (abad ke-3) mengatakan bahwa hari Sabat adalah akhir dari penciptaan yang pertama, sedangkan hari Tuhan (=Dominggo, Minggu) adalah awal dari penciptaan yang kedua, dimana Allah memperbarui, memperbaiki dan menyempurnakan yang lama. Maka pantaslah kita memperingati hari Tuhan (Minggu) sebagai peringatan akan penciptaan yang baru.
Apa yang dikatakan oleh Athanasius ini mengajar kita bahwa hari Tuhan, sebagai bentuk perayaan Paskah Yesus Kristus, menjadi moment kita dibaharui oleh Allah. Seperti dikatakan dalam bacaan pertama Yeremia 31:1-6, bahwa Allah akan memulihkan keadaan Israel dengan memperbarui perjanjian-Nya yang akan mendatangkan keselematan bagi bangsa itu. Perjanjian baru itu menjadi nyata dan sempurna melalui karya penebusan dan kebangkitan Yesus.
Maka, kebangkitan Yesus mengandung makna memperbaiki, memperbarui, memulihkan bahkan menyelamatkan hidup kita . Inilah yang pantas kita syukuri dan kita rayakan senantiasa. Selamat Paskah.
Bacaan: Matius 28:1-10
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 20 April 2014
Add comment