PL : Yeremia 33:14–16
PB : 1 Tes. 3: 9–13
Tanggapan : Mazmur 25:1–10
Injil : Lukas 21: 25–36
Teman saya dokter prakteknya laris, tak putus heran melihat pasiennya setia duduk antri menunggu giliran periksa. Beda pengalaman teman dokter juga, tapi jarang praktek. Ia heran karena masih ada pasiennya yang memilih menunggu daripada periksa ke dokter lain. Agaknya bagi pasien, demi kesembuhan setia menunggu waktu-dokternya adalah wajar, keniscayaan, bukan beban bukan kebodohan.
Hadirat Allah, bagi Adam adalah pengalaman elok luar biasa. Sebab itu sesudah ia jatuh dosa, janji pemulihan melalui keturunannya yang meremukkan kepala ular (Kej 3:15) menjadi harapan yang menggairahkan. Tak heran sepanjang hidupnya utuh penantian, walaupun siapa yang ditunggu hampir-hampir tidak jelas.
Raja Daud seniman besar layaknya imam yang sedang menjaga, menstabilkan masyarakat Ibrani sebagai umat Allah (2000, Hill-Walton) dengan gaya kesungguhannya tanpa peduli komentar orang, memulai berdoa dengan mengangkat jiwanya kepada Tuhan (Maz 25:1). Baginya meyakinkan Allah adalah utama untuk terkabulnya doa. Ia sungguh rindu Allahnya yang baik, benar, penuh kasih & rahmat, setia, juru selamat, pembimbing & pelindung dari segala musuhnya. Ia menanti-nanti Allahnya sepanjang hari (Maz 25:5) karena dari seluruh keinginannya Saprakara kang dak suwun marang JHWH, kang dak upaya, iya iku supaya sajegku urip aku bisaa manggon ing padalemane JHWH, nyawang kadarmane, dak rasak-rasakake klawan kasengsem ana ing pasucene (1919, Jab 27: 4) Perasaan Daud melambung, bandingkan dengan Paulus yang tak kuasa menyembunyikan emosi ketika menunggu bersua kekasihnya, jemaat Tesalonika. Serasa hidup kembali ia ketika mendengar kabar baik jemaatnya melalui Timotius (1Tes 3:8). Untuk kerinduannya bersua manusia bukan Tuhan siang malam ia berdoa sungguh-sungguh menunggu bertemu muka dengan muka (1Tes 3: 10). Bagaimana advent kita?
Yang kita tunggu persis yang dinanti Adam & Daud, bahkan lebih jelas, yaitu diri Yesus Penebus, Tunas keadilan bagi Daud (Yer 33:15) yang ditunggu kedatanganNya yang pertama oleh Yeremia. Dia yang kemudian membekali kita dengan pengetahuan & mencegah kita terkejut tidak siap karena kedatanganNya yang kedua kali (KKK) seolah tiba-tiba jatuh seperti jerat (Yun: Aiphnidios) (Luk 21: 34), Yesus juga yang dengan tegas mengatakan KKK diawali tanda, bukan tanpa pemberitahuan (Luk 21:25-31) Tinggal kita peka, ragu atau pura-pura dungu. Bertemu Yesus berakhirlah penantian itu sebab apa dan siapa yang kita tunggu telah menyatu pada diriNya. Hadirat Allah menyertaiNya, sebab dialah Allah. Dia, Allah & Bapa kita, & Yesus, Tuhan kita membukakan.. jalan... (1Tes 3: 11). Perhatikan kata membukakan (Yun: Kateuthynai) Kata ini menguatkan Yesus, Tuhan yang satu dengan Bapa, karena kateuthynai adalah kata kerja untuk subyek tunggal bukan jamak.
Nah, kita memang lebih berpengetahuan tentang apa, siapa dan tanda KKK. Serta mertakah masa tunggu kita lebih berkualitas, lebih bergairah dari mereka? Atau sama? atau justru lebih hambar? Mampukah kita setia menunggu waktu Tuhan seperti pasien menunggu waktu dokternya, tidak bosan tidak patah arang?
Kiranya Tuhan menolong kita!
Add comment