
Jika kita berkaca didepan cermin, bergaya dengan cara memberi, maka pantulan cermin diri kita juga bergaya memberi ke arah kita. Jika kita bergaya seperti menahan berkat, maka akan terlihat cerminan kita sedang menahan berkat terhadap kita. Jika kita memberi sesuatu atau permen ke anak kecil dan kita menguji anak kecil dengan meminta balik lagi permennya dan anak kecil itu menolak, jengkelkah kita? Tetapi jika kita menguji dan anak kecil dengan rela mau memberikan kembali permen kepada kita, akankah kita ambil? Tentu tidak. Banyak orang tidak suka mendengar kata 'memberi' yang berarti harus berkorban atau membagikan apa yang kita punya kepada orang lain.
Kita lebih suka 'menerima' yaitu memperoleh sesuatu dari orang lain. Itulah prinsip dunia! Dunia mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan untuk memperoleh harta adalah dengan menghemat dan menerima. Ini sangat bertolak belakang dengan prinsip Kerajaan Allah, yang justru orang yang diberkati adalah orang yang suka menabur atau memberi kepada orang lain.
Kisah Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki (kira-kira total 20,000 orang laki-laki, perempuan dan anak-anak) ini dicatat bukan hanya untuk menunjukkan bahwa Kristus berkuasa dan mampu melakukan mukjizat. Jika kita menyelidiki dengan lebih teliti dalam konteks bagian ini, tujuan Kristus adalah membentuk suatu komunitas dengan nilai-nilai yang menjadi alternatif dari kerajaan Herodes. Dalam bagian sebelumnya, kita melihat banyak skandal, permainan kuasa, intrik-intrik politik dalam kerajaan Herodes yang diakhiri dengan dipenggalnya Yohanes Pembaptis. Matius menyambung kisah itu dengan pelayanan Kristus dalam bagian ini (ay. 12).
Keadaan dunia kita sekarang ini tidaklah jauh berbeda dari pada jaman kerajaan Herodes. Banyak pembunuhan, kekerasan, permainan kuasa, orang-orang politik yang digerakkan oleh envy and greed. Tidak mudah bagi orang-orang. Kristen untuk berjuang dalam dunia ini. Kita harus terus mendoakan orang-orang yang berjuang demi kebenaran dalam dunia. Tuhan Yesus melakukan mukjizat ini bukan digerakkan oleh envy dan greed melainkan oleh compassion. Compassion ini juga yang harusnya mewarnai cara pandang kita terhadap orang-orang di luar yang seperti domba tanpa gembala.
Belas kasihan Kristus tidak hanya sebatas perasaan tapi juga dinyatakan dalam tindakan nyata. Ia memberikan pertolongan kepada orang-orang yang datang kepada-Nya. Mungkin kita lebih sering seperti murid-murid yang berpikir berdasarkan logika dan melihat bahwa untuk memberi makan kepada orang sebanyak itu adalah tidak mungkin, maka mereka menyuruh orang-orang itu pergi. Tapi Tuhan mengatakan, 'kamu harus memberi mereka makan'. Akhirnya memang Kristus yang melakukan mujizat itu sendiri tapi Ia mengajak murid-murid untuk ikut dalam pekerjaan Tuhan.
Dalam peristiwa ini, murid-murid merasa tidak sanggup untuk memberi makan sebegitu banyak orang. Sering kali dalam mengikut Tuhan, kita merasa gentar. Hal ini mengingatkan kita bahwa jika kita melihat diri, kita akan menjadi gagal. Dalam bagian ini, Tuhan Yesus mengajar murid-murid untuk membentuk komunitas yang bukan bergantung pada kekuatan diri.
Kadang-kadang yang Tuhan perintahkan terlalu besar dan kita sadar bahwa kita tidak mampu. Walaupun demikian, kita harus tetap menaati perintah Tuhan, bukan dengan kekuatan kita sendiri atapun berdasarkan perhitungan kita sendiri, tapi dengan kekuatan dari Tuhan. Yang menjadi peringatan bagi kita, murid-murid pada bagian ini hanya memperhitungkan yang dapat mereka lihat, tapi tidak memperhitungkan kekuatan dari Tuhan. Bagaimana memberi makan 5000 orang laki-laki padahal hanya ada 5 roti dan 2 ikan yang merupakan lunch box seorang anak kecil? Bahkan murid-murid tidak memberi tahu Kristus dari awal akan adanya 5 roti dan 2 ikan yang ditemukan mereka. Waktu Tuhan Yesus bertanya, 'apa yang ada pada kamu?' barulah mereka memberi tahu, 'yang ada pada kami hanyalah 5 roti dan 2 ikan'. 5 roti dan 2 ikan ini seperti tidak ada artinya.
Roti dan ikan yang dari Tuhan tidak hanya membuat mereka kenyang, lebih dari itu 'they become satisfied'. Makanan yang dari tangan Tuhan akan memuaskan. Anugerah Tuhan tidak hanya menyelesaikan masalah fisik tapi juga membuat kita puas. Lebih lagi, anugerah Tuhan tidak hanya membuat puas, tapi it is much more than. Setelah mereka kenyang, roti yang dikumpulkan sisa 12 bakul. Anugerah Tuhan yang bukan hanya memuaskan kita, tetapi ada lebihnya, harus dibagi-bagikan keluar untuk memuaskan jiwa-jiwa yang sesungguhnya memerlukan Tuhan.
Semoga ini mendorong kita untuk lebih giat dalam pelayanan, membagikan Injil Tuhan, berdoa bagi orang. Kita harus terus ikut dalam pelayanan yang memang sering membuat kita gentar. Ketika merasa lemah, barulah kita mengalami kekuatan dan penyertaan Tuhan. Ketika kita mau taat dalam segala keterbatasan kita, kita akan melihat Tuhan bekerja. 5 roti dan 2 ikan hanya cukup untuk seorang anak kecil, tapi ketika diserahkan pada Tuhan bisa memuaskan hingga 20,000 orang, bahkan sisa 12 bakul roti. Biarlah kita taruh hidup kita dalam tangan Tuhan dalam segala keadaan kita dan Tuhan akan berkarya jauh lebih besar dari yang dapat kita bayangkan. Jangan kita tunggu Tuhan berkarya dulu.
Waktu Tuhan suruh Musa masuk ke laut merah, Musa tidak tunggu laut merah itu terbelah dulu. Ia harus menjejakkan kaki ke laut merah dulu, baru kemudian melihat karya Tuhan. Mari kita taat dan bersandar kepada Tuhan dan dengan demikian membentuk suatu alternative community daripada dunia ini. Komunitas yang bersandar kepada Tuhan dan digerakkan oleh compassion kepada orang-orang sekeliling kita. Selain itu, kita juga melakukan hal-hal yang luar biasa bagi Tuhan, di mana di dalamnya Tuhan bekerja melalui kita. Dalam Ibrani 11, dicatat orang-orang yang melakukan banyak hal yang luar biasa bagi Tuhan. Banyak kesulitan dan penderitaan yang mereka hadapi, tetapi karena iman, mereka terus setia dalam melaksanakan pekerjaan Tuhan. Tuhan Memberkati. Amin
Bacaan I : Yesaya 55: 1 – 5
Tanggapan: Mazmur 145: 8–9, 14–21
Bacaan II: Roma 9: 1 – 5
Bacaan III : Matius 14:13–21
Sumber: Warta Gereja Edisi : Minggu, 31 Juli 2011
Add comment