Cinta Yang Membebaskan

Bacaan I : Keluaran 20:1-17
Tanggapan: Mazmur 19
Bacaan II : 1 Korintus 1:18-25
Bacaan Injil : Yohanes 2:13-22

Ada suatu ungkapan yang menyatakan bahwa “Gereja Merupakan Agen Pembebasan” Namun yang menjadi refleksi kita adalah; sudahkah gereja-gereja Tuhan dalam hal ini orang percaya benar-benar melakukan pembebasan terhadap seluruh ciptaan atau justru beralih fungsi menjadi sarana ‘pemuas’ kepentingan pribadi dan golongan tertentu?

Gereja yang beralih fungsi menjadi sarana pemenuhan kebutuhan dan kepentingan kelompok tertentu, nampaknya menjadi sebuah fenomena yang sudah ada sejak masa Yesus melakukan pelayanan di dunia. Injil Yohanes 2:13-22 mencatat sebuah kisah penyucian yang Yesus lakukan terhadap Bait Allah. Ketika sesuatu yang seharusnya suci, kudus dan menjadi persembahan yang berkenan bagi Tuhan, menjadi tidak suci karena ulah beberapa oknum di dalamnya maka diperlukanlah sebuah penyucian. Penyucian yang Yesus lakukan kepada Bait Allah bukanlah penyucian secara lahiriah saja atau dengan melarang orang-orang berjualan di Bait Allah. Fokus penyucian yang Yesus tekankan adalah pada praktek-praktek penindasan yang justru mereka lakukan di Bait Allah.

Pada masa pelayanan Yesus, semua orang Israel akan datang ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Sebagai bagian dari perayaan Paskah ini, orang Israel harus mempersembahkan binatang dan hasil panen mereka kepada Allah. Hal ini lantas dimanfaatkan oleh banyak orang untuk menjual binatang-binatang kurban. Di tempat itu juga mereka menempatkan meja-meja kemudian menaruh uang di atasnya, sehingga bagi orang-orang Yahudi yang berasal dari luar kota dapat membeli binatang kurban dan atau menukar uang mereka dengan uang khusus yang dipakai di Bait Allah ini.

Tidak ada yang salah dengan hal ini, tetapi kemudian menjadi suatu dosa di hadapan Allah ketika mereka mulai menetapkan harga yang berlebihan dan melakukan praktek kecurangan di dalam penukaran uang, sehingga Yesus mengatakan orang-orang yang demikian sebagai penyamun. Imam-imam kepala, pejabat Bait Allah dan juga keluarga mereka, yang seharusnya menjadi pelayan-pelayan Allah justru mendapatkan keuntungan dari kegiatan perdagangan yang terjadi di Bait Allah ini. Inilah sebabnya Yesus sangat murka dan menggunakan cambuk dari tali sebagai lambang penghakiman Allah, murka Allah terhadap orang-orang yang menindas kehidupan sesamanya.

Bait Allah adalah Bait Suci yang seharusnya memiliki fungsi sebagai sarana orang-orang memperoleh anugerah keselamatan, bukannya sarana penindasan terhadap sesama manusia dengan saling mencurangi, menipu bahkan memanfaatkan kehidupan orang lain. Praktek seperti ini jelas ditentang Yesus, karena IA datang ke dunia untuk membebaskan setiap manusia melalui kematian-Nya di kayu salib. Pada Minggu Pra Paskah yang III, kembali kita diingatkan bahwa karena begitu besar cinta-Nya kepada seluruh ciptaan terutama manusia, maka Yesus mau menderita bahkan mati untuk membebaskan manusia dari dosa-dosa yang selama ini membelenggu hidupnya. Cinta kasih yang Yesus miliki adalah cinta yang membebaskan, bukan cinta yang menindas atau memanfaatkan. Kiranya ingatan kita akan cinta dan pengorbanan yang Yesus berikan ini, mampu mendorong kita untuk menjadi “agen-agen pembebasan”, sehingga harapan Allah akan kasih-Nya yang membebaskan seluruh ciptaan, dapat terwujud melalui kehidupan kita sebagai gereja Tuhan. Amin.

Sumber: Warta Gereja Edisi Minggu 4 Maret 2018

Kategori