
Jemaat yang terkasih,
Saat ini kita sudah memasuki Minggu Advent III, dimana bacaan kita mengambil dari seruan Yohanes Pembaptis ke seluruh daerah Yordan kepada orang Yahudi untuk menyerukan pertobatan. Jika kita membaca seruan pertobatan Yohanes Pembaptis ini ada sesuatu yang menarik karena ditujukan kepada orang Yahudi. Dimana tidak sedikit orang Yahudi atau hampir seluruhnya menerapkan apa yang dinamakan Hukum Taurat Musa dan hukum-hukum kembangan dari Taurat.
Mereka sangat memegang teguh hukum tersebut karena diajarkan kepada mereka sejak kanak-kanak. Dengan kata lain, orang Yahudi sangat menaati Hukum Tuhan dan juga kembangannya, sebagaimana yang diajarkan dan diterapkan. Mungkin bagi kita bertanya-tanya, apakah yang harus ditobatkan lagi??? Toh mereka sudah benar-benar melakukan Hukum Tuhan dengan ketatnya. Kemudian ditambah mereka adalah keturunan Bapa Abraham, yang menerima perjanjian dari Allah (ayat 8). Ini semakin menguatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak perlu bertobat lagi.
Namun, nampaknya Yohanes Pembaptis melihat bahwa perilaku relasi dengan sesama hanya berdasarkan apa yang tertulis atau legal formal saja, demikian juga dengan Allah. Sehingga banyak sikap mereka yang tidak mengindahkan hati nurani, baik dengan Allah maupun dengan manusia.
Hal itu nampak pada jawaban Yohanes Pembaptis ketika ada beberapa kalangan dari banyak orang yang bertanya tentang apa yang harus diperbuat untuk menerima keselamatan. Kepada orang banyak Yohanes menjawab “Barang siapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barang siapa mempunyai makanan hendaklah ia berbuat demikian” (ayat 11).
Kepada pemungut cukai ia menjawab “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu”(ayat 13). Kepada para prajurit ia menjawab “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu”(ayat 14). Nampaknya pertobatan yang mengarah pada keselamatan hanya dipahami dari segi ritual atau hukum saja: menjadi orang Yahudi, sembahyang sehari 7 kali, pergi ke sinagoge berkali-kali, baca Taurat setiap malam, tidak masak pada waktu hari Sabat, puasa, persembahan ke Bait Allah, tidak berbicara dengan orang Samaria, merajam perempuan tuna susila, dll sampai kurang lebih 600 hukum.
Kepekaan untuk peduli, memperhatikan, menolong, mengasihi, melayani jika tidak terdapat dalam hukum baik dari segi waktu dan tempatnya tidak mau mereka lakukan. Inilah yang menjadi keprihatian Yohanes Pembaptis, karena baginya pertobatan itu tidak mengenal dimensi ruang dan waktu. Maksudnya adalah ketika orang bertobat maka dimanapun dan kapanpun dia berada harus menunjukkan sikap hidup pertobatannya. Makanya tidak heran jika Yohanes Pembaptis mengatakan: “Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai pertobatan” (ayat 8).
Keprihatinan dan seruan Yohanes Pembaptis kepada orang Yahudi patut menjadi perhatian kita semua saat ini. Keprihatian Yohanes Pembaptis kepada orang Yahudi nampaknya juga terjadi kepada orang Kristen. Ada orang Kristen yang rajin ke gereja (tetapi tidur, tidak mendengarkan kotbah, membikin perseteruan, mudah tersinggung, tutur-katanya tidak positif, korupsi, selingkuh, dll). Ada orang Kristen yang rajin PA/PD (dengan saudara satu persekutuan tidak peduli, acuh, merendahkan, dll).
Ada orang Kristen yang rajin pelayanan (abai dengan keluarganya, melakukan ketidakjujuran, ketidakadilan, dll). Belajar dari seruan Yohanes Pembaptis ini kita diingatkan supaya bertobat bukan hanya persoalan ritual dan hukum (menjadi Kristen dan melakukan ritual dan aturan bakunya), namun bertobat persoalan sikap hidup, kapan waktunya dan dimanapun tempatnya. Mari kita nampakan buah pertobatan kita, karena sedap dilihat dan manis dirasakan dalam kehidupan. Tuhan memberkati.
Bacaan: Lukas 3: 7-18
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 13 Desember 2015
Add comment