Mendisiplinkan Diri Membangun Kehidupan

Sanadyan rumpil marginya
Nging Gusti tansah nganthi
Nadyan ribed lan sangsara
Datan semplah ing ati
Daftar Renungan GKJ Manahan

Sanadyan rumpil marginya
Nging Gusti tansah nganthi
Nadyan ribed lan sangsara
Datan semplah ing ati

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus.
Minggu-minggu ini bersama dengan seluruh masyarakat yang mayoritas beragama Muslim merasakan suasana hari raya Idul Fitri. Sebagaimana telah menjadi tradisi masyarakat yang sudah berlangsung dari waktu ke waktu, setiap lebaran tiba, mudik merupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan. Menjelang orang mudik banyak stasiun televisi menayangkan berbagai persiapan yang dilakukan oleh baik pemerintah, perusahaan-perusahaan maupun pribadi untuk membantu proses mudik. Tiket pesawat, kereta api, kapal laut travel, bis, dll telah dipesan jauh hari sebelumnya. Tips-tips mudik yang nyaman dan aman diberikan. Jalur-jalur perjalanan diinformasikan, pernak-pernik mudik diingatkan. Semuanya itu dilakukan supaya setiap orang yang akan mudik mempersiapkan semua hal dengan sebaik-baiknya. Ketika acara Idul Fitri dan acara kekeluargaan di kampung halaman telah usai, kembali mereka bersiap untuk balik kembali ke tempat kerja masing-masing. Persiapan yang baik memang dibutuhkan supaya rencana dapat berjalan dengan baik.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus.
Kalau kita perhatikan pada saat ini, baik melalui tulisan di media cetak, maupun media Elektronik, berbagai macam kejahatan telah terjadi di Negara kita, bahkan di lingkungan dimana kita hidup bermasyarakat. Korupsi masih merajalela, pertengkaran antar saudara, mutilasi yang dilakukan terhadap anggota keluarga sendiri, penjualan manusia dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya adalah cerminan masyarakat yang kurang mampu mengendalikan diri. Bukankah hal itu menunjukkan bahwa masyarakat saat ini mengalami krisis kepekaan terhadap sesama. Minimnya self control menjadikan seseorang bertindak berdasarkan keinginan diri dan tidak diimbangi dengan akal sehat serta hati nurani. Orang akan memakai segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkannya, tanpa memperhitungkan nilai-nilai kemanusiaan lagi.


Majelis GKJ Manahan hari ini (17/4) menyelenggarakan acara lepas sambut majelis lama dan majelis baru untuk masa bakti tahun 2013 - 2016. Kegiatan yang dihadiri lebih dari 90 majelis ini diawali dengan menyanyikan pujian bersama dipimpin oleh Ibu Widyarti Riani Hutapea. Doa pembukaan dan perenungan Firman Tuhan dilayani oleh Pdt. Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA. Dalam renungan yang disampaikannya, pendeta Ratih menyatakan bahwa dalam gereja presbytrial seperti GKJ Manahan ini, kepemimpinan tidak bergantung pada salah satu orang saja, tetapi pada majelis-majelis. Setiap majelis adalah para pemimpin, orang yang berpengaruh dalam gereja. Setiap orang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi orang-orang sekitar kita.
Kepemimpinan, yang disampaikan pendeta Ratih adalah sebuah tindakan untuk mempengaruhi –memotivasi dan mendorong- orang lain agar mereka memiliki entusiasme untuk mengambil bagian dalam semua usaha guna mencapai tujuan bersama (dbk. Patrick J Brennan 1990: 77 dan Paul Hersey 1985:16). Sebagai pemimpin kita diharapkan mempengaruhi orang-orang mencapai tujuan bersama, yaitu keselamatan yang kekal.

Sampai hari ini masih banyak orang yang meragukan kebangkitan-Nya, tentang kubur kosong, tentang "batu yang sudah terguling dari kubur" dan sensasi lainnya. Kalau diantara kita pernah melihat Yesus "menampakkan diri", itu mungkin halusinasi? Atau mungkin Yesus tidak mati beneran? Seolah-olah bangkit? Terus siapa yang disalib?