Sukacita Karena Perlindungan-Nya

Bacaan I : Yesaya 63:7-9 Tanggapan : Mazmur 148
Bacaan II : Ibrani 2:10-18
Bacaan Injil : Matius 2:13-23

Jemaat yang terkasih… Seandainya kita bisa memilih sebutan untuk diri sendiri, sebutan seperti apa yang akan kita kenakan pada diri kita? Sebutan yang positif atau negatif? Yang menunjukkan kebesaran atau kehinaan? Dunia menawarkan sebuah semangat jaman yang mengagungkan kehebatan. Gelar, prestasi, jabatan. Banyak orang berlomba untuk menjadi yang terkenal dan terdepan. Natal membawa semangat yang berbeda. Yang ditekankan bukan kehebatan orang, melainkan realisasi rencana Tuhan. Mengikuti rencana-Nya jauh lebih bermakna daripada mengejar nama. Bahkan demi rencana-Nya kita kadangkala harus kehilangan nama. Itulah yang dilakukan oleh Yusuf dan Maria. Mereka rela menderita supaya rencana Allah digenapi di dalam kita.

Nats ini menceritakan Yusuf yang bermimpi. Dalam mimpi tersebut, Malaikat Tuhan berbicara dan menyampaikan pesan kepadanya agar membawa anak dan isterinya untuk pergi ke Mesir karena Raja Herodes berencana untuk mencari dan membunuh bayinya. Mimpi pada zaman itu adalah sarana menerima pesan dari Allah. Lewat mimpi itulah Allah menyampaikan pesan kepada Yusuf agar membawa Yesus jauh dari rencana pembunuhan oleh Herodes, dan dengan demikian sejarah keselamatan dari Allah dapat berlangsung sesuai dengan rencanaNya. Allah memakai Maria dan Yusuf sebagai alat untuk penggenapan rencana-Nya atas dunia ini melalui kelahiran Yesus di dalam keluarga mereka. Tugas mereka tidaklah mudah, apalagi kemudian diketahui bahwa nyawa Yesus yang masih kanak-kanak itu terancam. Raja Herodes yang mengetahui kelahiran seorang Raja Yahudi melalui orang Majus, lalu berhasrat mencari untuk membunuh Sang Bayi (1). Yusuf yang mengetahui hal itu dari malaikat kemudian segera menyingkir ke Mesir, sesuai perintah malaikat (2). Meski harus menempuh perjalanan berat bersama istri dan bayinya, Yusuf memilih untuk taat.

Benar saja, Herodes yang kemudian tahu bahwa orang-orang Majus tidak kembali menemui dia, lalu memutuskan untuk membinasakan semua anak yang berusia dua tahun ke bawah (16). Kepatuhan Yusuf terhadap perkataan malaikat menggenapkan pemeliharaan Allah atas keluarga Yusuf. Akan tetapi, tinggal dan membesarkan anak di Mesir bukanlah rancangan Allah bagi Yusuf dan Maria. Maka melalui malaikat yang tampak dalam mimpi, Allah memerintahkan Yusuf untuk kembali ke Israel sebab saat itu Herodes sudah mati (19-21). Lalu lagi-lagi melalui mimpi, Yusuf dipimpin Tuhan untuk tinggal di Nazaret, di daerah Galilea (22-23).

Kita melihat bahwa pimpinan Tuhan terhadap Yusuf nyata di dalam kehidupannya. Pimpinan itu pun diikuti oleh kepatuhan dan kesetiaan Yusuf langkah demi langkah. Maka kita melihat bagaimana nubuat para nabi digenapi, rancangan Tuhan terus berjalan, dan Yusuf serta keluarga kecilnya tetap berada dalam pemeliharaan Tuhan. Kepatuhan Yusuf patut kita teladani, terutama dalam menjalani tahun baru nanti. Biasanya di awal tahun, orang punya segudang tekad untuk memperbaiki hidup. Namun seiring berjalannya waktu, tekad itu memudar, terlupakan, lalu dirumuskan lagi di tahun berikut. Kisah Yusuf mengajar kita untuk taat langkah demi langkah sesuai tuntunan Tuhan. Pimpinan Tuhan yang kita patuhi satu per satu membentuk kita untuk setia kepada Dia. Maka kita akan bertumbuh dalam ketaatan dan mengalami buahnya kelak. Selaku orang percaya marilah kita menunjukkan ketaatan kepada Tuhan agar kiranya kita menjadi orang terpercaya di hadapan Tuhan hingga pada waktunya Yesus Kristus datang ke dunia kedua kalinya. Amin.

Sumber: Warta Gereja 29 Desember 2019

Kategori