Pembaptisan Yang Memulihkan

Bacaan I : Yesaya 42 : 1 - 9
Antar Bacaan : Mazmur 29
Bacaan II : Kisah Para Rasul 10 : 34 - 43
Bacaan Injil : Matius 3 : 13 - 17

Saat ini kita telah memasuki musim penghujan. Hampir setiap hari wilayah Solo dan sekitarnya diguyur hujan baik dalam intensitas rendah, sedang maupun lebat. Ketika hujan mulai turun maka banyak bangunan yang terlihat mengalami kebocoran ditandai air yang menetes, merembes ataupun mengucur masuk ke dalam bangunan. Sejatinya kebocoran sudah terjadi sebelum peristiwa hujan, akan tetapi kebocoran tersebut baru diketahui atau disadari ketika hujan sudah turun.

Bahkan yang lebih ekstrem, kejadian banjir dan tanah longsor karena gerusan air di berbagai wilayah Indonesia, yang merenggut harta benda dan jiwa semestinya menjadi alat penyadar bahwa ada yang salah dalam sikap perilaku manusia terhadap alam ataupun tata kelola sumber daya alam yang tidak terlaksana dengan baik. Dan yang memprihatinkan, peristiwa banjir dan tanah longsor yang tengah melanda tidak semata manifestasi bencana alam tetapi juga mengakibatkan bencana sosial yakni terbelahnya masyarakat karena saling menyalahkan satu dengan yang lainnya ditandai dengan banjir komentar di dunia maya.

Dampak yang ditimbulkan oleh bencana sosial ini mungkin jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan bencana alam. Proses pemulihan bencana sosial membutuhkan daya upaya yang besar dan membutuhkan waktu yang lama akibat hilangnya saling percaya di tengah masyarakat.

Melalui peristiwa kehidupan ini kita bisa semakin menyadari bagaimana unsur “air” memiliki kekuatan yang luar biasa. Air bisa mendatangkan manfaat bagi kehidupan makhluk hidup tetapi juga memiliki potensi daya rusak yang luar biasa bagi alam semesta maupun bagi kehidupan sosial. Firman Tuhan yang tertulis dalam Mazmur 29 : 3a menyatakan demikian “Suara Tuhan di atas air” memberikan pengajaran bahwa ada maksud Allah dalam setiap kehadiran air dalam kehidupan ini. Umat perlu memaknai pesan Tuhan dibalik fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan kita yang menunjukkan kuasaNya atas alam semesta seraya mengevaluasi diri adakah yang salah dalam diri kita

Unsur air juga dipakai sebagai sarana pernyataan Allah untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus oleh Yohanes Pembaptis sebagaimana tertulis dalam Injil Matius 3:13-17 menunjukkan bahwa Tuhan Yesus yang tidak berdosa merelakan dirinya menerima baptisan pertobatan yang dilayani oleh Yohanes. Bukan pertobatan diri Tuhan Yesus tetapi pertobatan manusia yang dosanya telah ditanggung oleh Tuhan Yesus. Kerelaan diri untuk dibaptis sejatinya merupakan wujud perendahan diri Tuhan Yesus dengan tujuan memulihkan relasi antara manusia dengan Sang Khalik yang selama ini tertutup tirai karena kekerasan hati manusia.

Saat ini banyak tirai-tirai yang membatasi relasi antar manusia oleh karena berbagai perbedaan yang ada dalam kehidupan bersama. Solidaritas antar sesama semakin luruh dan terkikis oleh kepentingan-kepentingan kelompok atau golongan. Melalui peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus, kita kembali diingatkan akan makna pembaptisan sebagai penanda kelahiran baru yang memulihkan jiwa dan relasi kita dengan Tuhan Yesus Kristus.

Kita yang telah (akan) menerima pembaptisan dipanggil untuk mengambil bagian dalam proses pemulihan sosial yakni dengan mengoyakkan tirai-tirai pembatas dalam kehidupan bersama serta berperan aktif mengembangkan modal sosial sebagai jembatan dan perekat relasi antar sesama. Melalui peran aktif dalam proses pemulihan ini sejatinya kita telah melaksanakan amanat agung Tuhan Yesus Kristus yakni menghadirkan damai sejahtera dalam kehidupan bersama.

Sumber: Warta Gereja edisi 12 Januari 2020

Kategori