Nilai Kemanusiaan Di Balik Kekayaan

Bacaan I : Amos 6: 1-7 ;
Mazmur Antar Bacaan : Mazmur 146;
Bacaan II: I Timotius 6: 6-19;
Bacaan Injil : Lukas 16:19-31.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus.
Harta milik merupakan sarana bagi manusia untuk hidup lebih baik. Sebagai sarana, harta milik harus dikelola dengan bijaksana. Sikap bijak adalah dengan cara menjadikan harta sekadar alat. Menjadikan harta melebihi alat, akan membelit manusia dan menjadikan manusia kehilangan kemanusiaan terhadap sesamanya. Di sinilah spiritualitas rasa cukup, syukur dan memperhatikan sesama dibutuhkan.

Perumpamaan orang kaya dan Lazarus dalam Injil Lukas 16:19-31, mengajak kita memperhatikan bagaimana kita sikap hidup terhadap kepuasan materiil. Seringkali memburu dan memelihara kepuasan yang bersifat materiil, membuat manusia kehilangan kepekaan dan berujung pada penyesalan.

Dalam perumpamaan itu dikisahkan ada seorang kaya. Setiap hari ia berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Sayangnya orang kaya itu menikmati kepuasan hartanya dengan sikap tamak. Dalam kisah ini Tuhan Yesus bukan anti pada orang kaya, yang diperhatikan olehNya adalah sikap orang kaya yang merasa puas diri dengan kekayaan dan menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup.

Rasul Paulus memberi nasihat bagi kita agar bijaksana menata harta milik dengan rasa cukup adalah keuntungan besar, cukup berangkat dari sikap batin terhadap kehidupan, karena itu rasa cukup tidak akan pernah datang ketika manusia mengandalkan hal-hal yang sifatnya lahiriah dan diluar dirinya. Mewaspadai sikap cinta uang, keinginan akan uang membuat manusia menjadi kehausan yang tak pernah terpuaskan.

Alkitab mengajarkan kita untuk menghindari mengejar kepuasan secara material semata. Kepuasan adalah anugerah Allah bagi mereka yang dapat menghayatinya. Inilah yang disebut kepuasan hakiki. Untuk itu firman Tuhan menasihatkan supaya mengalami kepuasan hidup maka jauhilah sikap cinta akan uang, kejarlah keadilan, ibadah, kasih, kesabaran, kelemahlembutan (I Timotius 6:11). Kepuasan yang diajarkan oleh Paulus adalah kehidupan yang berpuncak pada Allah melalui hidup adil, beribadah dengan tekun, hati dipenuhi kesabaran dan kelemahlembutan. Itulah nilai kemanusiaan yang bisa dikembangkan melalui harta milik.

Hari ini kita kembali diingatkan bahwa kekayaan adalah hamba yang baik bila dikendalikan secara bijak. Namun ia menjadi tuan yang jahat bila kita dikuasainya. Melalui kisah Lazarus dan nasihat Paulus pada Timotius, kita diundang untuk merayakan hidup dengan kekayaan yang bersumber dari Allah. Gunakan dengan tepat supaya kita dapat memuliakan Allah dan mengangkat kemanusiaan dari semua kepemilikan kita. Amin.

Sumber: Warta Gereja Edisi 29 September 2019

Kategori