Mengikut Yesus Sebagai Murid-Nya

Bacaan: Lukas 14 : 25 - 33

Perkembangan media sosial yang sedemikian masif saat ini memunculkan fenomena follower (pengikut). Para pengguna medsos berlomba-lomba untuk mendapatkan follower sebanyakbanyaknya dengan maksud dan tujuan yang beragam termasuk diantaranya motif ekonomi, politik, pencapaian status sosial dan sebagainya. Untuk mendapatkan follower berbagai macam cara diupayakan bahkan adakalanya menggunakan cara-cara yang tidak etis dan bertentangan dengan norma-norma yang hidup di tengah masyarakat.

Para pemilik akun atau blogger yang mendapatkan follower dalam jumlah besar akan menjadi influencer yang memiliki pengaruh yang kuat bagi para follower bahkan ada diantaranya juga berdampak kepada masyarakat umum. Pengaruh yang ditebarkan para influencer kepada follower atau masyarakat ada yang positif tetapi adapula di antaranya yang negatif. Sehingga perlu sikap bijak dalam ber-medsos agar tidak tersandung persoalan di belakang hari.

Terkait dengan bahasan tentang “influencer” dan “follower” maka perenungan kita saat ini akan membahas relasi antara Tuhan Yesus dengan umat pilihanNya yang digambarkan laksana guru dan murid. Relasi guru dan murid merupakan bentuk keterikatan hubungan yang sangat kuat.

Berbeda dengan relasi antara influencer dan follower dalam ranah medsos yang seringkali sangat rapuh sehingga mudah terputus oleh karena perubahan situasi dan kondisi. Dalam ingatan kolektif kita tergambarkan sosok guru yang senantiasa menjadi teladan atau panutan bagi para muridnya bahkan kerap berlanjut meskipun murid tersebut tidak diajar oleh guru yang bersangkutan.

Oleh karenanya terdapat peribahasa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Tuhan Yesus Sang Guru menjadi pribadi yang menebarkan pengaruh yang positif bagi para murid-Nya. Bahkan dalam banyak kesaksian disebutkan bahwa melalui perkataan maupun peneladanan, Tuhan Yesus mengajar serta mendidik para murid dan orang-orang yang mengikut DIA menjadi pribadi yang berkenan kepadaNya. Termasuk pengajaran Tuhan Yesus yang dirasakan sangat lugas dan “keras” sebagaimana disabdakan dalam Lukas 14 : 25 – 33 tentang syarat untuk menjadi murid Tuhan Yesus yakni tidak boleh terikat pada hal-hal lain atau mengutamakan yang lain termasuk keluarga bahkan nyawanya sendiri. Karena keterikatan pada sesuatu hal menjadi hambatan ketika seseorang akan menjadi murid Tuhan Yesus.

Persyaratan berikutnya untuk menjadi murid adalah kesediaan untuk memikul salib dan mengikut Tuhan Yesus. Memikul salib memiliki makna siap menghadapi segala risiko sebagai konsekuensi menjadi murid-Nya. Sedangkan mengikut Tuhan Yesus mengandung makna meneladan sikap hidup Tuhan Yesus dalam segenap kehidupan para murid. Persyaratan lainnya adalah setiap murid wajib melepaskan dirinya dari segala miliknya yang memiliki makna agar para murid menyangkal dirinya melalui pengosongan diri dari segala hawa nafsu baik berkaitan dengan kepemilikan harta, kedudukan, status sosial, dan lain-lain.

Proses pemuridan Tuhan Yesus sebagaimana diuraikan diatas juga berlaku bagi kita umat percaya. Berbagai persyaratan menjadi murid tersebut terlihat berat untuk dapat kita penuhi. Tetapi sejatinya proses tersebut merupakan mekanisme pendidikan yang dilakukan Tuhan Yesus untuk menghantarkan para murid termasuk kita umat percaya menjadi pribadi Kristen yang utuh.

Pribadi yang utuh adalah pribadi yang merdeka dari segala keterikatan yang menjadikannya tidak mampu berpikir dan bertindak secara bebas. Melalui proses pemuridan Tuhan Yesus memerdekakan para murid dari segala belenggu keterikatan. Model pendidikan yang dilakukan Tuhan Yesus kepada para murid merupakan proses pendidikan yang mengutuhkan karena mengembangkan relasi yang proporsional antara yang vertikal yakni hubungan antara Tuhan Yesus dengan para murid maupun relasi horisontal yakni hubungan para murid dengan sesama dan lingkungannya.

Dalam penutupan Pekan Pendidikan Kristen saat ini kita diingatkan kembali akan panggilan kita baik sebagai gereja, sekolah maupun keluarga untuk mewujudkan pendidikan yang mengutuhkan sebagaimana yang telah diteladankan Tuhan Yesus. Perlu adanya sinergitas antar ketiga komponen tersebut untuk mewujudkan pendidikan yang mengutuhkan bagi anak-anak kita agar mampu menghantarkan mereka mewujudkan pribadi Kristen yang utuh dan memiliki karakter yang kuat di tengah pusaran perubahan jaman.

Majulah terus Pendidikan Kristen di Indonesia dan teruslah menghasilkan buah bagi negeri ini.

Sumber: Warta Gereja Edisi 8 September 2019

Kategori