Keluarga Yang Beriman Dan Bertindak

2 Timotius 1: 1-14; Lukas 17: 5-10

Jemaat yang terkasih,
Bulan Oktober ini kita memasuki Bulan Keluarga dan dalam peribadahan saat ini kita mengawalinya dengan Ibadah Khusus Bulan Keluarga. Dalam Bulan Keluarga ini yang menjadi perhatian adalah kehidupan keluarga pada era revolusi industri 4.0. Mengapa demikian? Diketahui bahwa dalam beberapa hal perubahan industri dan teknologi saat ini membawa dampak yang positif dalam kehidupan kita. Contoh sederhana adalah teknologi komunikasi dan informasi yang kita gunakan saat ini melalui smartphone. Ada banyak kemudahan yang kita dapatkan melalui aplikasi di dalamnya. Misalnya: melalui aplikasi “GoFood” kita mudah untuk memesan makanan apapun, melalui aplikasi “Ruang Guru” kita mudah untuk mengerjakan soal-soal dari sekolah, melalui aplikasi “Lazada” kita mudah membeli barang dengan pilihan yang banyak, orang semakin cepat untuk mendapatkan dan memberikan informasi, dll.

Dengan teknologi, kehidupan saat ini menjadi lebih sederhana, lebih murah, lebih cepat dan mudah terjangkau. Namun disisi lain ada dampak negatif yang muncul dari perkembangan atau perubahan industri dan teknologi. Hubungan antar personal yang semakin berkurang yang mempengaruhi perubahan pola asuh, hak, kewajiban, tanggung jawab dan pembagian peran di dalam maupun di luar rumah yang berdampak pada terkikisnya kesatuan, kerukunan, kesabaran, kebersamaan, dll ditengah kehidupan keluarga.

Kondisi demikian pun juga terjadi dalam kehidupan keluarga Kristen dalam menyatakan dirinya sebagai milik Kristus. Keluraga yang sejatinya menjadi tempat bagi setiap pribadi untuk menumbuhkan kehidupan dan iman, dapat saja tidak dapat mewujudkan hakekatnya.

Itulah tantangan yang dihadapi oleh keluarga Kristen saat ini. Padahal dalam bacaan Injil (Lukas 17: 5-10) Tuhan Yesus mengingatkan kepada para murid bahwa terhubungnya antara manusia dengan Allah melalui iman percayaNya perlu diwujudkan dalam aktifitas kesehariannya. Keluarga menjadi tempat berlatih bagi setiap individu untuk mempraktekan apa yang diimani. Oleh karena itu mari kita belajar dari keluarga Timotius. Lois (nenek) dan Eunike (ibu) merupakan sosok utama dalam pembentukan karakter Timotius, sebagaimana yang juga diakui oleh Rasul Paulus (2 Timotius 1: 1-14).

Dimana relasi dan komunikasi langsung dari nenek dan ibunya mempengaruhi perilaku dan iman Timotius (2 Timotius 1: 5). Dalam relasi dan komunikasi yang baik, masing-masing anggota keluarga dapat saling menguatkan, mengasihi dan memahami. Oleh karena itu, relasi dan komunikasi anggota keluarga sangat penting dalam membangun iman dan itu merupakan perwujudan iman.

Berkaca dari apa yang terjadi dalam kehidupan Timotius, ditengah-tengah krisis hubungan antar personal dan panggilan hidup keluarga Kristen, kita diajak untuk membangun relasi dan komunikasi antar anggota keluarga dengan baik. Ketika dalam keluarga kita sudah terbangun relasi dan komunikasi yang baik satu dengan yang lain, maka iman kita pun akan terbangun bersama dengan anggota keluarga kita dan apa yang kita imani dapat terus kita wujudkan. Dengan demikian, keluarga kita akan terus terhubung dengan Allah dan keluarga dapat menjadi garam dan terang dunia, karena sudah terbiasa dan terlatih melakukan perbuatan baik. Biarlah melalui proses yang baik ini keluarga kita pun semakin diberkati oleh Tuhan.

Selamat membangun kehidupan keluarga kita masing-masing. Tuhan memberkati dan membuat keluarga kita menjadi berkat bagi yang lain. Amin.

Sumber: Warta Gereja Edisi 6 Oktober 2019

Kategori