Hidup Bersyukur


Bacaan I: 2 Raja-raja 5 :1-3, 7-15;
Tanggapan: Mazmur 111;
Bacaan II: 2 Timotius 2:8-15;
Bacaan Injil: Lukas 17:11-19

Bersyukur merupakan nilai universal dan diajarkan dalam berbagai agama. Kekristenan juga mengajarkan untuk bersyukur. Tentu saja ada banyak alasan bagi kita untuk bersyukur karena memang banyak kebaikan yang diberikan Tuhan dalam hidup kita. Terlebih bagi kita yang percaya dalam diri Tuhan Yesus, kita sudah beroleh keselamatan kekal. Namun dalam realitanya, meskipun banyak orang sudah mendapat kebaikan baik dari Tuhan maupun sesama, tidak semua orang mau bersyukur.

Orang sulit atau tidak mau bersyukur karena :

  1. Menganggap bahwa berkat itu adalah sesuatu yang biasa-biasa saja
  2. Tekabur. Lupa bahwa banyak kebaikan itu berasal dari Tuhan.

Bacaan Minggu ini menceritakan tentang Naaman, panglima Raja Aram. Naaman sakit kusta dan ia sangat ingin sembuh dari sakitnya itu, maka datanglah ia kepada Elisa untuk memohon agar sakitnya itu bisa disembuhkan. Elisa menyuruh Naaman untuk mandi sebanyak tujuh kali di sungai Yordan, maka Allah akan memberikan kesembuhan baginya. Apa yang disampaikan oleh Elisa itu dilakukan oleh Naaman dan setelah melakukan hal itu maka sembuhlah dia. Setelah ia pulih dari sakitnya, ia kemudian menghaturkan syukurnya kepada Allah melalui persembahan yang ia berikan kepada Elisa.

Pada bacaan Injil hari ini menceritakan tentang 10 orang yang sakit kusta. Mereka berteriak minta tolong kepada Tuhan Yesus. Atas belas kasihNya kesepuluh orang sakit kusta tersebut disembuhkan.

Hanya sayang tidak semua orang yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus datang kembali untuk berterima kasih. Hanya satu orang yang datang kembali dan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yesus. Sementara yang sembilan orang yang lainnya tidak kembali. Bahkan dalam dua kisah penyembuhan baik Naaman dan orang orang yang sakit kusta, justru orang-orang bukan Yahudi lah yang mengucapkan syukur kepada Tuhan atas peristiwa kesembuhan mereka.

Dari kisah tersebut kita perlu merefleksikan hidup kita untuk menghayati dan merasakan banyak kebaikan Tuhan yang diberikan dalam hidup kita. Ada beribu-ribu alasan bagi kita untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Namun demikian untuk bisa bersyukur kepada Tuhan orang harus mempunyai kerendahan hati untuk belajar dan berproses. Dalam hal ini keluarga memiliki tempat yang sangat strategis untuk menjadi wadah pembelajaran bersyukur kepada Tuhan. Bukankah ada banyak sekali kebaikan yang telah Tuhan limpahkan kepada keluarga kita. Ada banyak peristiwa yang kita hadapi sebagai keluarga, dan sampai saat ini kita diberi kuat, ini adalah kebaikan Tuhan yang pantas kita syukur. Hal ini dapat kita lakukan ketika anggota keluarga membiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikan-kebaikan yang diterima, bantuan-bantuan yang didapatkan, kemurahan yang disediakan oleh anggota keluarga yang lain.

Kita juga dapat melakukannya ketika mengakhiri aktivitas sepanjang hari dengan berbagai pengalaman kebaikan yang kita dapatkan sepanjang hari dan menutupnya dengan doa syukur bersama. Dengan langkah-langkah kecil ini keluarga terdidik untuk terus belajar bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Bahkan dengan bersyukur kita mencerminkan kemurahan hati Tuhan. Amin.

Sumber: Warta Gereja Edisi 13 Oktober 2019

Kategori