Berbagi Terang

Matius 2: 1-12

Jemaat yang terkasih,
Beberapa waktu yang lalu, dan mungkin sudah banyak di antara kita yang mengetahuinya, tentang sindiran yang dilakukan kepada para pengguna media sosial. Melalui sebuah gambar, disitu diperlihatkan bahwa ada seseorang yang mengalami musibah disitupun ada beberapa orang yang mengarahkan gawai pintarnya untuk merekam atau memotret orang tersebut dan kemudian diunggah ke media sosial. Harapannya supaya diketahui banyak orang bahwa orang tersebut mengalami musibah dan membutuhkan perhatian.

Fenomena semacam ini memang terjadi di era digital saat ini, diketahui ada banyak peristiwa yang dapat kita lihat melalui media internet maupun di media sosial, mengunggah peristiwa buruk untuk mengundang simpati khalayak. Memang satu sisi, ada dampak positif dari hal tersebut, bahwa berita atau kejadian peristiwa cepat diketahui oleh banyak orang dan bisa saja memberikan bantuan.

Namun disisi lain, dampak negatifnya adalah reaksi tindakan orang yang ada di sekitarnya, bukannya langsung memberikan pertolongan tetapi malah sibuk dengan potret atau rekaman kejadian yang akan diunggah. Juga dampak negatif lanjutannya adalah banyak pengguna media sosial yang menunjukkan simpati tanpa menunjukkan empatinya. Orang menunjukkan rasa kasihan hanya melalui komentar atau tanda jempol yang dicantumkan pada unggahan rekaman atau gambar kejadian. Di jaman ini, menjadi orang yang baik bisa hanya cukup memberikan tanda jempol dan komentar yang baik pada sebuah unggahan. Orang dapat berbagi kebaikan dengan hanya membagikannya melalui media sosial saja. Padahal media sosial dan sebagainya merupakan bagian dari dunia maya atau semu. Jika demikian apakah bisa dikatakan bahwa kebaikan, simpati yang kita munculkan dalam setiap komentar atau tanda jempol pada setiap unggahan adalah semu???

Ketika dalam bacaan kita saat ini, Matius 2: 1-12 “Orang-orang majus dari Timur”, kemudian menggunakan latar belakang jaman saat ini. Dapat kita imajinasikan bahwa kelahiran Tuhan Yesus diunggah ke media sosial dan orang majus yang mengetahui unggahan tersebut bisa saja memberikan persembahan melalui kiriman gambar emas, kemenyan dan mur dengan disisipi kata-kata khusus. Jika demikian tidaklah spesial persembahan yang diberikan oleh para orang majus, mungkin bisa merasakan perhatian dan cinta dari orang Majus, tetapi tidak ada manfaat langsung yang bisa dirasakan secara nyata.

Padahal kisah perjumpaan dan persembahan orang Majus kepada Tuhan Yesus ini tercatat secara khusus dalam Injil Matius. Ada yang spesial yang hendak diberitakan dalam kisah ini, yaitu para majusi (orang bijak dan ada yang mengartikan sebagai raja) mengadakan perjalanan jauh untuk memberikan/berbagi sukacita atas kelahiran secara langsung melalui persembahan emas, kemenyan dan mur. Ada sebuah upaya khusus yang telah dipersiapkan oleh para orang majus serta perjumpaannya secara langsung untuk berbagi cinta dengan keluarga Tuhan Yesus.

Belajar dari kisah ini, ketika kita semua bersama diajak untuk berbagi terang dan kebaikan diperlukan upaya dari kita. Memang dalam setiap upaya perlu aktivitas kerja yang lebih, tetapi itulah syarat ketika kita mau berbagi kebaikan. Selanjutnya, kebaikan itu dapat dirasakan ketika ada perjumpaan satu dengan yang lain. Oleh karena itu di jaman yang serba mudah ini oleh berbagi macam piranti dan gawai yang mendukung, jangan kita batasi kebaikan kita sebatas layar monitor, layar hp dan keyboard saja. Tetapi upayakan melalui tindakan nyata dalam setiap perjumpaan kepada setiap orang secara nyata. Biarlah kebaikan kita berdampak langsung dalam kehidupan setiap pribadi di sekitar kita. Selamat berbagi terang, Tuhan Yesus memberkati.

Sumber: Warta Gereja Edisi 5 Januari 2020

Kategori