Kotbah

Daftar Kotbah GKJ Manahan

Ibadah Advent I "Berjaga Bersama Tuhan dan Sesama"

Memasuki Minggu Advent Pertama tahun ini, Minggu (2/12), jemaat GKJ Manahan merayakan peribadatan dengan menggunakan liturgi khusus dengan tema ibadah "Berjaga Bersama Tuhan dan Sesama". Ibadah jam 18.30 dilayani oleh Pdt. Samuel Arif Prasetyono, S.Si dengan kotbah yang didasarkan dari bacaan leksionari Yeremia 33: 14-16, I Tesalonika 3: 9-13 dan Injil Lukas 21: 25-36.

Dalam kotbahnya, Pendeta Samuel menyatakan bahwa masa Advent pertama ini bagi kita adalah minggu pertama dari masa menyongsong peringatan kelahiran bayi Kristus ke dunia ini. Tidak seorangpun tahu apa yang terjadi dalam hidup kita besok, apapun yang kita rencanakan belum tentu terjadi, banyak peluang-peluang perubahan dalam hidup yang akan merubah apapun yang mungkin terjadi besok. Masa depan masih menjadi misteri. Apa yang menjadi angan-angan manusia belum tentu bisa diwujudkan sesuaI perencanaan.

Ibadah Perjamuan Kudus, 7 Oktober 2012 “Menyambut Kerajaan Allah Seperti Seorang Anak Kecil”

Sakramen Perjamuan Kudus sedunia dirayakan segenap jemaat GKJ Manahan Surakarta dalam ibadah Minggu (7/10) pada semua jam ibadah. Ibadah jam 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA dengan kotbah yang didasarkan dari Injil Markus 10: 13-16. Dalam kotbahnya dinyatakan bahwa sakramen Perjamuan Kudus Sedunia yang ditetapkan setiap Minggu pertama bulan oktober memiliki tujuan yaitu : pertama, sebagai ekspresi iman, siapapun orang percaya dan dimanapun dia berada, diikat menjadi satu dalam tubuh Kristus. Siapapun orang yang percaya kepada Tuhan, apapun denominasi ibadahnya, semua adalah saudara di dalam Kristus. Perjamuan Kudus Sedunia dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa semua orang kristen adalah saudara meskipun ada perbedaan diantara kita. Kedua, bukankah format perjamuan kudus memberikan harapan bahwa kita yang setia sampai akhirnya, akan merayakan perjamuan kudus bersama-sama dalam kerajaan Allah.

Ibadah Minggu, 16 September 2012 "Siap Mendengar Firman dan Siap Melakukan Firman Tuhan"

Ibadah minggu (16/9) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Pany, S.Si. Kotbah didasarkan dari Amsal 1: 20-33. Perenungan Firman Tuhan dibuka dengan beberapa pertanyaan: Adakah orang yang tega menertawakan orang yang sedang mengalami kesusahan? orang yang mengolok-olok orang lain yang sedang celaka? Pernahkah kita sendiri yang mengalami hal itu? Orang percaya seharusnya memberikan penghiburan bagi orang yang sedang kesusahan, bukannya menertawakan maupun mengolok-olok.

Salomo, penulis Amsal, yang memiliki hikmat itu berencana menertawakan orang lain bila orang lain itu ditimpa kecelakaan? Bahkan mengatakan jika orang itu mencari dan minta tolong tidak akan ditolongnya. Benarkah demikian?

Ibadah Minggu, 2 September 2012

Ibadah Minggu (2/9) di GKJ Manahan pada jam 18.00 WIB dilayani oleh Vikaris Samuel Arif Ppresetyono, S.Si. Kotbah didasarkan dari Yakobus 1: 26-27. Di awal kotbahnya, diceritakan bahwa dalam sebuah surat kabar yang dibacanya, ada sebuah artikel yang berjudul "Kecelakaan Lalu-Lintas Adalah Manifestasi Agama". Apa kaitannya lalu lintas dengan agama? Menurut penulis, cara berkendara seseorang mencerminkan kualitas spiritualitas imannya. Seharusnya kalau orang beriman, dapat mengendalikan diri, sabar dan kesabaran itu membuatnya bisa terhindar dari kecelakaan lalu lintas, dan bukannya kualitas keimanan yang menjadi alasan untuk selalu menuntut selalu didahulukan.

Ibadah Minggu, 26 Agustus 2012 “Gunakan Perlengkapan Senjata Allah”

Ibadah Minggu (26/8) jam 16.00 WIB di GKJ Manahan Surakarta dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si. Kotbah didasarkan dari bacaan Efesus 6: 10-20. Dalam kotbahnya, disampaikannya mengenai para pejuang kemerdekaan Indonesia. Bahwa belum lama ini kita memperingati kemerdekaan Republik Indonesia ke-63, kemerdekaan dari penjajahan Belanda dan Jepang. Mengenai para pejuang kemerdekaan, mari membandingkan bagaimana perawakan para pejuang kemerdekaan Indonesia dibandingkan dengan warga negara Indonesia zaman sekarang ini, tentunya secara fisik beda karena para pejuang terlatih untuk berperang. Sekalipun senjata perang para pejuang kemerdekaan sangat sederhana bila dibandingkan dengan milik penjajah, tidak mengurangi semangat juang. Kemerdekaan Republik Indonesia, diraih dengan keberanian berjuang merebut kemerdekaan. Keberanian berjuang dalam segala macam keterbatasan.

Ibadah Minggu, 5 Agustus 2012 - Pembukaan Pekan Pendidikan Kristen

Jemaat GKJ Manahan membuka Pekan Pendidikan Kristen dalam ibadah yang diselenggarakan hari ini (5/8). Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA yang melayani dalam ibadah ini mendasarkan kotbahnya dari Injil Yohanes 6: 24-35. Di awal kotbahnya, disampaikan bahwa hidup manusia adalah proses mencari. Setiap saat, setiap waktu kita mencari. Mencari pekerjaan, mencari ilmu, mencari teman, mencari jodoh maupun mencari identitas diri dan lain-lain. Adakalanya kita mendapatkan apa yang kita cari, terkadang tidak. Kadang kita mencari ditempat yang benar, kadang tidak.

Ibadah Minggu, 29 Juli 2012 "Sungguh Tidak Terbatas KuasaNya"

Ibadah minggu (29/7) di GKJ Manahan, jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA. Kotbah didasarkan dari Injil Yohanes 6:1-15. Di awal kotbahnya diceritakan kisah seorang gadis kecil, berasal dari lingkungan biasa, tumbuh dalam keluarga yang taat pada Tuhan. Suatu hari ia menangis di gereja, tanpa seorangpun memperhatikannya, kecuali pendetanya yang memperhatikannya. Katanya pada pendeta, dia tidak memiliki tempat duduk di Sekolah Minggu. Kemudian, atas bantuan pendetanya tersebut, gadis kecil itu memperoleh tempat duduk di kelas Sekolah Minggu.

Ibadah Peringatan Hari Anak tahun 2012

Sukacita peringatan hari Anak tahun ini dirayakan dalam ibadah oleh jemaat GKJ Manahan. Dalam ibadah pagi yang dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Pany, S.Si, anak-anak dilibatkan dalam rangkaian prosesi ibadah. Beberapa anak sekolah minggu ada yang bermain drama pendek, ada pula yang melayani sebagai pemusik, pemandu nyanyian jemaat, pembaca firman Tuhan, pendoa, bahkan petugas persembahanpun anak-anak terlibat membantu pelayanan didalamnya. Hal ini tidak hanya untuk melatih anak-anak memiliki rasa tanggung jawab, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa kasih dan penghargaan kepada anak-anak, bukan mengesampingkan mereka dalam ibadah gereja.

Pendeta Fritz mendasarkan kotbahnya dari Injil Markus 10:13-16. Diawal kotbahnya, dinyatakannya bahwa melalui bacaan ini, kita diingatkan bagaimana sikap Allah terhadap anak-anak, dan bagaimana cara Allah menerima orang-orang yang lemah. Kita tahu bahwa dalam dunia ini, ada istilah "yang kuat adalah pemenang". Inilah sistem pendidikan dunia, orang-orang yang menganut cara pandang ini akan menempatkan orang-orang yang kuat pada tempat istimewa dan merendahkan mereka yang lemah, entah dalam hal fisik, sosial, ekonomi ataupun dalam berbagai hal kehidupan kita ini.

Ibadah Minggu, 15 Juli 2012 "Kesetiaan"

Hari ini (15/7) dalam ibadah minggu jam 06.30 dan 08.30 WIB di GKJ Manahan, dilayani oleh Pdt. Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th. Kotbah didasarkan dari Injil Matius 6: 14-29. DI awal kotbahnya, pendeta Ratih menceritakan pengalamannya selama menempuh studi S-2 di Kampen, Belanda. Kaitannya dengan tema kotbah yaitu kesetiaan, dinyatakannya bahwa kesetiaan itu penting. Kesetiaan pada Tuhan, keluarga, pendidikan dan apapun tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada kita.

Ibadah Minggu, 1 Juli 2012 “Bukti Iman dalam Relasi”

Hari ini (1/7) dalam ibadah minggu di GKJ Manahan jam 16.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si. Ibadah diselenggarakan menggunakan liturgi ibadah minggu I, dengan kotbah dan didasarkan dari II Samuel 1: 17-27 tentang ratapan Daud atas kematian Raja Saul dan Yonatan sahabatnya.

Di awal kotbahnya, pendeta Fritz menyampaikan sekilas kotbahnya minggu lalu, dalam kotbahnya yang lampau, telah disampaikan bahwa sebagai orang kristen kita perlu membuktikan iman kita, tidak hanya kepada sesama melainkan juga kepada Tuhan. Minggu ini kita belajar mengenai bukti iman dalam relasi. Setiap orang yang membangun relasi dengan sesama tentunya berharap hubungan relasional ini berlangsung baik dan awet. Apapun relasi yang dibangun, entah hubungan orang tua dengan anak, maupun relasi dengan orang lain tentunya harapannya adalah saling menerima, bukan pembedaan-pembedaan berdasarkan hal-hal yang menimbulkan perpecahan.

Pages