Kotbah

Daftar Kotbah GKJ Manahan

Ibadah masa pra-paskah hari ini (9/3) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Tanto Kristono, S.Th, M.Min dengan menggunakan liturgi khusus. Pemberitaan Firman Tuhan didasarkan dari bacaan leksionari yang terambil dari Kejadian 2:15-17; 3:1-7, Mazmur 32, Roma 5:12-19, Matius 4:1-11. Dalam kotbah yang disampaikannya, Pendeta Tanto menyatakan bahwa dalam hidup sering kali kita mengalami pencobaan yang membuat kita mengalami beban yang berat.

Ibadah hari Minggu (2/2) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Pany, S.Si dengan menggunakan liturgi minggu pertama. Kotbah didasarkan dari Matius 5: 1-12 mengenai ucapan-ucapan bahagia. Mengawali kotbahnya, pendeta Fritz menyatakan bahwa semua orang tentunya ingin merasakan kebahagiaan, dan untuk mewujudkannya banyak usaha yang dilakukan. Dengan membeli banyak hal yang diinginkan, melakukan banyak kegiatan, termasuk salah satunya kegiatan bergereja dengan harapan merasakan kebahagiaan.

Awal kalender Gerejawi Tahun 2014 telah kita mulai dengan Masa Advent Pertama hari ini, Minggu (1/12) dengan Tema "Menyambut KehadiranNya". Dalam ibadah jam 18.00 WIB, jemaat dilayani oleh Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA dengan kotbah yang didasarkan dari bacaan Yesaya 2: 1-5, Mazmur 122, Roma 13: 11-14 dan Injil Matius 24: 36-44.

Mengawali kotbahnya, pendeta Ratih menyatakan bahwa kata 'advent' berasalh dari kata asli "Adventus", yang berarti kedatangan. Setiap saat dimana kita berada dalam suasana Advent, kita diingatkan akan kedatangan Tuhan Yesus dua ribu tahun yang lalu, sebagai kedatanganNya yang pertama kali, yang kita peringati dalam ibadah dan perayaan Natal. Akan tetapi, dalam masa Advent kita juga diingatkan akan kedatangan Tuhan Yesus untuk yang kedua kali.

Jemaat GKJ Manahan hari ini, Minggu (10/11) merayakan perjamuan kudus. Ibadah jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA dengan kotbah yang didasarkan dari bacaan Injil Lukas 20: 27-38 mengenai pertanyaan orang Saduki tentang kebangkitan.

Dalam kotbahnya, pendeta Ratih menyatakan bahwa perjamuan kudus adalah bagian penting dalam kehidupan iman kita, yaitu penhgarapan akan pemeliharaan Tuhan kepada kita. Perjamuan kudus yang kita terima memberi pengharapan bahwa kita akan mendapatkan bagian dalam perjamuan kudus di Surga. Demikianlah pengharapan akan kehidupan kekal ini menjawab pertanyaan orang Saduki yang tidak mengimani akan adanya kebangkitan.

Jemaat GKJ Manahan, hari ini (6/10) merayakan hari Pekabaran Injil Indonesia dan hari Perjamuan kudus sedunia dalam ibadah jam 06.30, 08.30 dan 18.00 WIB. Injil Lukas 17: 1-10 menjadi dasar pemberitaan Firman Tuhan oleh Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA dalam ibadah pagi.

Ada sukacita bagi jemaat GKJ Manahan dalam ibadah Minggu hari ini (29/9) saat beberapa jemaat GKJ Manahan menerima sakramen sidi dalam ibadah jam 06.30 WIB dan sakramen baptis dalam ibadah jam 08.30 WIB. Pendeta Samuel Arif Prasetyono, S.Si melayani ibadah jam 08.30 WIB dengan menggunakan liturgi khusus hari doa Alkitab. Kotbah didasarkan dari Yosua 1:9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."

Ibadah Minggu (15/9) di GKJ Manahan jam 16.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Pany, S.Si dengan menggunakan Tata Ibadah Minggu I. Kotbah didasarkan dari Injil Lukas 15: 1-10 perumpamaan tentang domba yang hilang dan perumpamaan dirham yang hilang. Dalam kotbahnya, pendeta Fritz menyatakan bahwa dalam kehidupan kita bermasyarakat pasti muncul sebuah pernyataan demikian :“untuk apa menolong orang itu, orang itu layak dimusnahkan; lebih baik tidak ada di dunia ini!” Sebuah kalimat penolakan, yang mungkin sering kali telah kita dengarkan. Ada orang-orang yang menginginkan orang lain disingkirkan dari kelompok masyarakat. Dan biasanya, orang yang disingkirkan disebut sebagai sampah masyarakat.

Di tengah-tengah masyarakat, ada sekelompok orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Dianggap sebagai orang yang tidak berguna dan disingkirkan dari antara masyarakat. Tetangga-tetangganyapun akan sulit  menerima keberadaan orang-orang yang di cap sampah masyarakat.

Ibadah Penutupan Pekan Pendidikan Kristen tahun 2013 hari ini, Minggu (1/9) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fendi Susanto, S.Si. Dalam ibadah yang menggunakan liturgi khusus ini, Ibrani 10:36 menjadi nats pembimbing. Kotbah didasarkan dari Lukas 14: 7-11. Berkaitan dengan penutupan Pekan Pendidikan Kristen tahun 2013, Pendeta Fendi menyatakan bahwa dalam tema "Mendisiplinkan Diri Membangun Kehidupan" ada 2 kata kunci yaitu 'disiplin' dan 'kualitas'.

Keadilan dan kesejahteraan di Indonesia bisa terwujud jika anak-anak bangsa mau menjadi generasi yang berkualitas. Republik Indonesia telah merayakan kemerdekaannya selama 68 tahun, namun muncul sebuah perenungan yang muncul seiring bertambahnya usia bangsa kita. Banyak anak bangsa yang masih hidup belum merdeka, baik secara ekonomi, hukum maupun sosial. Banyak yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas. 

Bagaimana mungkin cita-cita luhur bangsa ini bisa tercapai jika generasi muda tidak mendapat pendidikan berkualitas?

“Semua orang tentunya ingin hidup benar, tidak hanya dihadapan Tuhan tetapi juga didepan sesama kita. Bahkan sejak kecil kita sudah dididik untuk melakukan segala sesuatu dengan benar, berbicara dengan cara yang benar, bersikap dengan cara yang benar.” Demikian pernyataan Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA mengawali kotbahnya dalam Persekutuan Doa Akhir Bulan, hari Sabtu (31/8) yang lalu.

Sekalipun hidup benar adalah panggilan, harus kita akui bahwa orang-orang yang hidup tidak benar itu lebih banyak, dan realitanya mereka ada dalam masyarakat. Dimana-mana ada kekerasan, tidak hanya secara komunal tetapi bisa antar priadi bahkan dalam rumah tangga (KDRT) dan sering kali ada pembiaran terhadap kekerasan yang terjadi.

Dalam rangka menaikkan syukur kepada Tuhan atas penyertaanNya kepada anak-anak jemaat GKJ Manahan dalam studi yang ditempuh, Komisi Pendidikan GKJ Manahan menyelenggarakan kebaktian hari ini, Jumat (30/8) jam 17.00 WIB.

Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA melayankan pemberitaan Firman Tuhan yang diawali dengan pemutaran sebuah film singkat tentang John Steven Akhwari, seorang pelari maraton dari Tanzania. Maraton adalah lari dengan jarak yang bisa mencapai 42 kilometer. Dalam pertandingan maraton di kota Meksiko tahun 1968, John Stephen Akhwari mengalami cedera pada kilometer ke 19, dengan engsel kakinya yang lepas. Meskipun demikian, ia tidak menyerah. Dari antara 75 peserta yang mengawali pertandingan maraton, 57 diantaranya mencapai garis akhir, sedangkan sejumlah 11 orang  tidak mencapai finish. Sekalipun penganugerahan juara telah selesai dilangsungkan, satu jam kemudian barulah John Stephen Akhwari sampai dan menjadi pelari terakhir yang mencapai garis finish.Ia terus berjuang berlari sampai garis akhir, menyelesaikan pertandingan yang dimulainya, sekalipun dengan demikian-pun ia tidak akan mendapatkan apa-apa.

Pages