Kotbah

Daftar Kotbah GKJ Manahan

Ibadah Minggu, 5 Februari 2012 “Layani Sesama Demi Kristus”

Ibadah Minggu di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Idi Bangun Mulyono, S.Si dari GKJ Sukoharjo dengan kotbah yang didasarkan dari Markus 1: 29-39. Di awal kotbahnya Pendeta Idi menyampaikan latar belakang beberapa bacaan Leksionari dari Yesaya 40: 21-31, I Korintus 9: 16-23 juga Markus 1: 29-29. Sebuah pertanyaan di awal kotbahnya : “Pernahkah kita merasa bahwa hidup kita sedang tidak diperhatikan oleh Tuhan? Misalnya ketika kita sedang mengalami masalah berat, sudah berdoa sungguh-sungguh mohon pertolongan Tuhan tetapi Tuhan tak kunjung menjawab. Padahal kita terus setia melayani Tuhan. Lalu muncullah kata-kata – Hidupku tersembunyi dari Tuhan. Dan hakku tidak diperhatikan oleh Tuhan – ”

Ibadah Minggu, 22 Januari 2012

Ibadah Minggu (22/1) di GKJ Manahan Surakarta, jam 08.30 WIB menggunakan Liturgi Minggu I. Pendeta Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si mendasarkan kotbah dari bacaan Injil Markus 1: 14-20. Dalam ibadah ini kita menerima kabar baik dari Tuhan melalui Berita Anugerah dan Petunjuk Hidup Baru. Sering kali, jika kita melihat dunia ini, yang kita terima bukanlah berita baik. Banyak kita temui dalam berita-berita sekarang ini, banyak hal-hal yang mengusik rasa kemanusiaan kita. Mungkin kita lalu bertanya, apakah masih ada hal baik di dalam kehidupan kita ini?

Ibadah Natal 2011 Blok XI GKJ Manahan

Warga jemaat blok XI GKJ Manahan menyelenggarakan ibadah dan perayaan Natal 2011 di SMK Marsudirini, Punggawan, hari Senin (26/12) lalu. Pelayanan Firman disampaikan oleh Pdt. Markus Firmantoro Adi dari GKI Wonogiri. Dalam kotbah yang disampaikannya, beluai menyatakan bahwa sebagai hamba Allah, dalam melaksanakan misi Allah di dunia ini, kita perlu belajar rendah hati. Sikap sombong tidak akan menampakkan ketelandanan Kristen.

Ibadah Natal 2011 “Menyambut Kehadiran Yesus Kristus di Tengah-Tengah Kita dengan Kesederhanaan”

Minggu (25/12) adalah peristiwa spesial bagi jemaat GKJ Manahan, tidak hanya sukacita merayakan Natal, tetapi dalam ibadah pagi dan siang, beberpa jemaat menerima sakramen sidi dan sakramen baptis sebagai tanda iman mereka pada Yesus Kristus, Sang Juru Selamat Dunia. Dalam kedua ibadah tersebut, Pendeta Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si melayani sakramen, dan mendasarkan kotbahnya dari bacaan Injil Lukas 2: 1-20.

Dalam kotbahnya, Pendeta Fritz menyampaikan mengenai berita kelahiran yang biasanya dianggap sebagai suatu berita sukacita. Suatu berita yang dinanti-nantikan banyak orang. Apalagi berita mengenai kelahiran bayi Yesus, Sang Juru Selamat dunia. Akan tetapi, sayang bahwa berita kelahiran yang kita dengarkan kurang meyakinkan, kurang menyenangkan. Berita kelahiran yang kita dengarkan, tempat terjadinya berbeda dari yang kita harapkan. Yang tidak bagus dalam berita itu adalah Tuhan kita, Raja kita lahir di dalam palungan. Ia tidak mengenakan pakaian seperti yang kita pakai, melainkan kain lampin yang digunakannya. Ia mau berbaring dalam palungan yang merupakan tempat makan domba. Allah kita, Allah yang setiap saat kita berseru dan berdoa, Ia hadir ke dunia dalam tempat yang tidak istimewa, tidak sebagaimana harapan kebanyakan orang akan peristiwa kelahiran besar.

“Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih SetiaNya”

“Syukur identik dengan memuji Tuhan, praise, tehilim adalah hal yang sangat fundamental dalam pemahaman theologis dalam seluruh kitab Mazmur. Mazmur sesungguhnya berbicara tentang perjalanan iman dari orang-orang percaya.” kata Pdt. Stefanus Christian Haryono, MACF dalam sesi ketiga Retreat Komisi Adiyuswa dan Komisi Warga Dewasa, minggu lalu (20/11) di River Hill, Tawangmangu.

Bagaimana pemazmur bersyukur? Pemahaman secara umum, syukur lebih berupa uangkapan bahasa verbal yang diungkapkan secara bagus, sehingga kalau ada orang yang mengungkapkan dalam ratapan atau mengeluh (complaint) dipandang tidak bersyukur.

Ibadah Penutupan Bulan Keluarga Tahun 2011 “Merendahkan Diri”

Ibadah minggu (30/10) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Janoe Widyapramono, S.Si menggunakan Liturgi Khusus Penutupan Bulan Keluarga 2011 dengan nats pembuka dari Efesus 5: 20-21. Kotbah didasarkan dari bacaan Leksionari diantaranya Mikha 3: 5-12, I Tesalonika 2: 9-13 dan injil Matius 23: 1-12. Tema kotbah hari minggu ini adalah Merendahkan Diri. Merendahkan diri tidak sama dengan rendah diri. Rendah diri berarti tidak memiliki kepercayaan pada dirinya sendiri. Sedangkan merendahkan diri merupakan sikap positif yang seharusnya dimiliki para pengikut Kristus. Lebih lanjuat mengenai merendahkan diri, bisa kita baca dalam Filipi 2. 5-8 yang menyatakan “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Ibadah Minggu, 9 Oktober 2011

Ibadah minggu (9/10) jam 16.00 WIB di GKJ Manahan dilayani oleh Vikaris Samuel Arif Prasetyono, S.Si dengan kotbah yang didasarkan dari Surat Filipi 4: 1-9. Diawal kotbahnya, Samuel mengenakan blangkon. Dengan blangkon ini, hendak ditunjukkannya bahwa blangkon telah menjadi ciri identitas bagi orang jawa. Mengapa blangkon menjadi cirikhas jawa? Siapakah yang menentukan bahwa blangkon harus menjadi ciri khas orang jawa? Atau mungkin koteka menjadi ciri khas orang Papua dan lain-lain. Bukan Tuhan atau raja yang menentukan, melainkan komunitas. Jika banyak orang menyatakan sebuah ciri tertentu menjadi simbol bagi suatu suku tertentu, maka istilah khas itu dilekatkan.

Ibadah Perjamuan Kudus Sedunia, 2 Oktober 2011

Minggu lalu (2/10) di GKJ Manahan diselenggarakan ibadah dengan menggunakan liturgi khusus dari Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow (GMIBM) dalam rangka peringatan Hari Perjamuan Kudus Sedunia dan Hari Pekabaran Injil Indonesia. Dalam hal jam ibadah, khusus hari ini dilakukan perubahan jam ibadah bagi ibadah siang dari seharusnya jam 08.30 WIB diundur menjadi jam 09.00 WIB untuk memberi jeda waktu persiapan antar jam ibadah yang menggunakan liturgi khusus. Ibadah pagi jam 06.30 WIB dilayani oleh Pdt. Widya Notodiryo, S.Th, sedangkan ibadah jam 09.00 WIB dilayani oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si dengan kotbah yang didasarkan dari Matius 21: 33-46.

Ibadah Minggu, 18 September 2011 “Teruslah Bersemangat Untuk Tuhan”

Ibadah Minggu (18/9) jam 18.0 WIB di GKJ Manahan menggunakan liturgi khusus hari Alkitab yang diadaptasi dari model liturgi Model Liturgi dari Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) Gunung Sitoli – Nias – Sumatra Utara. Pelayanan Firman oleh Bp. Drs. Ec. Dwi Danan PP, M.Si dengan kotbah yang didasarkan dari Roma 12: 11 dan Ibrani 6: 11. Berikut ini ringkasan kotbahnya yang bertema “Teruslah Bersemangat Untuk Tuhan”.

Mengapa kita diminta bersemangat? Pertama, karena Firman Tuhan adalah suatu kebenaran. Tidak ada kebenaran yang lain. Kedua, karena Firman Tuhan itu menuntun kita kepada karya keselamatan. Firman Tuhan itu yang membimbing kita sehingga kita selamat.

Ibadah Minggu, 11 September 2011 “Pengampunan Yang Tiada Batas”

Ibadah Minggu (11/9) jam 08.30 WIB di GKJ Manahan dilayani oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, Ssi, dengan kotbah yang didasarkan dari Matius 18: 21-35. Berdasarkan bacaan tersebut, kotbah membahas mengenai pengampunan yang tiada batas. Di awal kotbahnya, Pdt. Fritz menunjukkan sebuah buku berjudul Dua Tahun Pertama Hidup Berkeluarga, karangan Kathleen Fischer Hart dan Thomas N. Hart. Satu bagian buku tersebut menyatakan kisah tentang Toni dan Santi yang telah lima tahun berkeluarga tetapi sejak tahun pertama sudah mengalami konflik. Masing-masing merasakan tidak ada yang spesial dalam kehidupan berkeluarga mereka. Oleh sebab mereka saling memendam kemarahan dan merasa susah dan tidak mampu mengenal pasangannya dengan baik, akibatnya mereka tidak merasakan ada yang istimewa dalam hubungan mereka.

Syndicate content