Kotbah

Daftar Kotbah GKJ Manahan

Ibadah hari ini, Minggu (19/10) jam 18.00 WIB di GKJ Manahan menggunakan liturgi khusus bulan keluarga, dilayani oleh Pdt.Budi Widianto, S.Ag dari GKJ Selokaton. Pemberitaan Firman Tuhan didasarkan dari bacaan leksionari : Keluaran 33: 12-23, Mazmur 99, I Tesalonika 1: 1-10, dan Injil Matius 22 : 15-22.

Dalam kotbahnya, pendeta Budi menyatakan bahwa dalam kehidupan kita perubahan-perubahan adalah hal yang tidak terelakkan. Dan kita harus mengambil sikap-sikap tertentu menghadapi perubahan-perubahan situasi zaman yang terus berubah dengan cepat ini. 

Ibadah hari ini, Minggu (13/7) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Samuel Arif Prasetyono, S.Si dengan kotbah yang didasarkan dari bacaan Injil Matius 13: 1-19, 18-23 mengenai perumpamaan tentang seorang penabur. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyemai adalah menjadikan benih menjadi kecambah supaya menjadi bibit tanaman yang siap ditanam, siap menjadi pohon dan siap menghasilkan buah. Proses penyemaian ini penting karena sejak proses penyemaian ini menentukan apakah benih akan menjadi bibit unggul atau tidak. Dalam penyemaian, media tanah diperlukan supaya benih tersebut dapat tumbuh sesuai dengan harapan. 

Demikian pula Tuhan menghendaki kita supaya menghasilkan buah-buah yang baik yaitu nilai-nilai kerajaan Allah, yaitu keadilan, kedamaian, kasih, kesabaran dan kelemah lembutan yang akan menjadikan dunia lebih baik lagi.

Ibadah Minggu hari ini (6/7) jam 18.00 dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Pany, S.Si dengan kotbah yang didasarkan dari Kejadian 24: 34 – 61 yang mengisahkan tentang hamba Abraham yang berjuang menemukan isteri bagi anak Abraham. Mengawali kotbahnya, pendeta Fritz menyatakan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, dulu Ia mencipta dan sekarang Ia memelihara. Di sisi lain, Tuhan mengundang kita menjadi rekan sekerjaNya. Yohanes 14 menyatakan pekerjaan besar yang dilakukan Tuhan Yesus. Ada banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan, yang telah Tuhan percayakan kepada kita.

Ibadah masa pra-paskah hari ini (9/3) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Tanto Kristono, S.Th, M.Min dengan menggunakan liturgi khusus. Pemberitaan Firman Tuhan didasarkan dari bacaan leksionari yang terambil dari Kejadian 2:15-17; 3:1-7, Mazmur 32, Roma 5:12-19, Matius 4:1-11. Dalam kotbah yang disampaikannya, Pendeta Tanto menyatakan bahwa dalam hidup sering kali kita mengalami pencobaan yang membuat kita mengalami beban yang berat.

Ibadah hari Minggu (2/2) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Pany, S.Si dengan menggunakan liturgi minggu pertama. Kotbah didasarkan dari Matius 5: 1-12 mengenai ucapan-ucapan bahagia. Mengawali kotbahnya, pendeta Fritz menyatakan bahwa semua orang tentunya ingin merasakan kebahagiaan, dan untuk mewujudkannya banyak usaha yang dilakukan. Dengan membeli banyak hal yang diinginkan, melakukan banyak kegiatan, termasuk salah satunya kegiatan bergereja dengan harapan merasakan kebahagiaan.

Awal kalender Gerejawi Tahun 2014 telah kita mulai dengan Masa Advent Pertama hari ini, Minggu (1/12) dengan Tema "Menyambut KehadiranNya". Dalam ibadah jam 18.00 WIB, jemaat dilayani oleh Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA dengan kotbah yang didasarkan dari bacaan Yesaya 2: 1-5, Mazmur 122, Roma 13: 11-14 dan Injil Matius 24: 36-44.

Mengawali kotbahnya, pendeta Ratih menyatakan bahwa kata 'advent' berasalh dari kata asli "Adventus", yang berarti kedatangan. Setiap saat dimana kita berada dalam suasana Advent, kita diingatkan akan kedatangan Tuhan Yesus dua ribu tahun yang lalu, sebagai kedatanganNya yang pertama kali, yang kita peringati dalam ibadah dan perayaan Natal. Akan tetapi, dalam masa Advent kita juga diingatkan akan kedatangan Tuhan Yesus untuk yang kedua kali.

Jemaat GKJ Manahan hari ini, Minggu (10/11) merayakan perjamuan kudus. Ibadah jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA dengan kotbah yang didasarkan dari bacaan Injil Lukas 20: 27-38 mengenai pertanyaan orang Saduki tentang kebangkitan.

Dalam kotbahnya, pendeta Ratih menyatakan bahwa perjamuan kudus adalah bagian penting dalam kehidupan iman kita, yaitu penhgarapan akan pemeliharaan Tuhan kepada kita. Perjamuan kudus yang kita terima memberi pengharapan bahwa kita akan mendapatkan bagian dalam perjamuan kudus di Surga. Demikianlah pengharapan akan kehidupan kekal ini menjawab pertanyaan orang Saduki yang tidak mengimani akan adanya kebangkitan.

Jemaat GKJ Manahan, hari ini (6/10) merayakan hari Pekabaran Injil Indonesia dan hari Perjamuan kudus sedunia dalam ibadah jam 06.30, 08.30 dan 18.00 WIB. Injil Lukas 17: 1-10 menjadi dasar pemberitaan Firman Tuhan oleh Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA dalam ibadah pagi.

Ada sukacita bagi jemaat GKJ Manahan dalam ibadah Minggu hari ini (29/9) saat beberapa jemaat GKJ Manahan menerima sakramen sidi dalam ibadah jam 06.30 WIB dan sakramen baptis dalam ibadah jam 08.30 WIB. Pendeta Samuel Arif Prasetyono, S.Si melayani ibadah jam 08.30 WIB dengan menggunakan liturgi khusus hari doa Alkitab. Kotbah didasarkan dari Yosua 1:9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."

Ibadah Minggu (15/9) di GKJ Manahan jam 16.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Pany, S.Si dengan menggunakan Tata Ibadah Minggu I. Kotbah didasarkan dari Injil Lukas 15: 1-10 perumpamaan tentang domba yang hilang dan perumpamaan dirham yang hilang. Dalam kotbahnya, pendeta Fritz menyatakan bahwa dalam kehidupan kita bermasyarakat pasti muncul sebuah pernyataan demikian :“untuk apa menolong orang itu, orang itu layak dimusnahkan; lebih baik tidak ada di dunia ini!” Sebuah kalimat penolakan, yang mungkin sering kali telah kita dengarkan. Ada orang-orang yang menginginkan orang lain disingkirkan dari kelompok masyarakat. Dan biasanya, orang yang disingkirkan disebut sebagai sampah masyarakat.

Di tengah-tengah masyarakat, ada sekelompok orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Dianggap sebagai orang yang tidak berguna dan disingkirkan dari antara masyarakat. Tetangga-tetangganyapun akan sulit  menerima keberadaan orang-orang yang di cap sampah masyarakat.

Pages