Ibadah Peringatan Jumat Agung "Berjumpa Dengan Yesus Yang Tersalib"

Kematian Yesus Kristus menebus dosa manusia, diperingati jemaat GKJ Manahan dengan menyelenggarakan ibadah Jumat Agung bersama. Ibadah dimulai dengan litani dan memuji Tuhan bersama sebelum dimainkan peran drama tentang kisah penyaliban Yesus Kristus.

Kotbah dilayankan oleh Pdt. Hendri Wijayatsih, MA . Bacaan Leksionari diambil dari Yesaya 52: 13-53:12; Mazmur 22; Ibrani 10:16-25 dan Injil Yohanes 18:1-19:42. Dalam kotbahnya, Pdt. Hendri menunjukkan gambar beberapa gambar di slide LCD, sisi kiri ada dua gambar bencana sedangkan di sisi kanan ada dua gambar pemandangan yang indah. Kita biasanya menyimpan dan mengenang hal-hal yang menyenangkan hati kita. Tetapi di Jumat Agung ini, bukan Yesus yang tersenyum yang kita lihat, tetapi Yesus yang tersalib. Kita diajak untuk melawan kecenderungan naluriah itu, kita diajak melihat Tuhan Yesus yang mati disalib demi menebus dosa manusia. MelihatNya, kita dipaparkan pada seseorang yang berani menentang status quo, yang berani mengatakan kebenaran sekalipun orang lain tidak, sosok yang berani mengorbankan nyawaNya demi mengemban misi sang Bapa.

Orang-orang yang melihat Yesus tersalib, bisa kita kelompokkan menjadi tiga. Pertama, Maria ibu Yesus dan para murid. Bagaimana perasaan Maria dan para murid melihat Yesus disesah dan dihina, menempuh jalan salib. Apa yang mereka perbuat ketika menyaksikannya? Mereka terhenti di kaki salib, terhenti karena kedukaannya.

Kelompok orang kedua yang menyaksikan yang mengusulkan supaya tiga orang yang disalib diturunkan supaya tidak menajiskan orang yang disalibkan. Mereka datang hanya untuk membuktikan orang yang sudah disalibkan sudah mati atau belum.

Kelompok orang yang ketiga, Yusuf Arimatea dan Nikodemus, murid Yesus yang sembunyi-sembunyi. Mereka baru berani mendekat ketika Tuhan Yesus benar-benar mati. Tidak ada lagi kesempatan untuk berdiskusi dengan Sang Guru tentang iman mereka. Mereka datang dan mendapatkan kehampaan. Sekalipun begitu, mereka masih memberikan penghormatan bagi Sang Guru.

Kalau kita bandingkan, sikap mana yang perlu kita ikuti, ketika melihat Yesus yang tersalib? Tuhan Yesus memanggil kita untuk memikul salib, Ia telah memikul salib yang berat dibandingkan dengan salib yang kita pikul.

Bangunlah relasi dengan sesama, supaya kita saling menguatkan dalam memikul salib, untuk terus setia kepada Yesus. Di Indonesia ada banyak salib kehidupan, mari kita pikul karena Gembala Agung kehidupan kita akan menolong kita.

Mari jangan terpaku dan diruntuhkan berbagai kekecewaan kehidupan. Jangan hanya menjadi penonton dalam berbagai kedukaan di dunia ini. Kalau hari ini Tuhan memberi kita kesempatan untuk memperingati Jumat Agung, itu berarti Ia mempercayaki kita untuk menjadi pemikul-pemikul salibnya yang setia, yang peduli pada orang lain, yang menghidupi perjumpaan kita dengan Yesus yang tersalib itu.

Add new comment